57 Pertanyaan Interview Favorit Rekruter - Contekan dari Career Coach RevoU

Di artikel ini, 7 Career Coach RevoU ngebongkar 57 pertanyaan interview favorit mereka!

Ervina Desiviola
Ervina Desiviola

Table of Contents

Udah punya CV dan portofolio yang stand out, lalu lolos ke tahap interview?

Bagus!

Inilah saatnya kamu menunjukkan bahwa kamu paling unggul di antara kandidat lainnya!

Salah satu caranya adalah punya persiapan interview yang matang.

Nah, di artikel ini, 7 Career Coach RevoU kasih tau pertanyaan interview favorit mereka yang bisa jadi contekanmu!

Yuk, langsung cek contekannya biar interviewnya makin mantap!


#1 Contekan Persiapan Interview (9 Pertanyaan)

Pertanyaan #1 - Apa yang kamu ketahui tentang perusahaan?

Dalam melihat seberapa siap kandidat di interview, Mohammad Maulana, Tech Recruiter di Stockbit - Bibit, seringkali melihat dari hasil risetnya terhadap perusahaan.

“Jadi, mulai dari aku tanyain bedanya reksadana sama saham apa?

Gimana cara jual belinya?

Dari mana orang tau reksadana atau saham itu bagus? Kamu liatnya dari aspek apa?” jelasnya.

Kalau hanya tau hal-hal umum alias kulitnya aja, kamu bisa dinilai gak melakukan riset yang dalam!

“Aku malah expect kandidat yang bilang:

'Stockbit tuh kayak …, tapi akan lebih bagus kalau bisa kayak …'

Misalnya kandidat punya kritik/saran, itu menandakan dia well prepared!”

Pertanyaan #2 - Pernah pakai produk/jasa kami? Gimana pengalamannya?

Pertanyaan ini biasanya disesuaikan dari industrinya. Apakah di industri Business to Consumer (B2C) atau Business to Business (B2B).

Contekan dari Dianing Lupitasari, People Strategy Lead di Mekari:

  • B2C: Pernah pakai produk/jasa kami? Gimana pengalamannya?
  • B2B: Udah research apa aja tentang perusahaan kami? Apa yang kamu tau tentang perusahaan kami?

“Biasanya, aku nanya kayak gitu untuk tau sebenernya dia udah melakukan research belum sih tentang produk-produk kita?

Selain itu, sense of curiosity dan apakah dia genuinely interest in the company or not,” jelasnya.

Pertanyaan #3 - Kenapa kamu tertarik dengan perusahaan ini?

Afriza Firlana Ghany, Talent Lead di Mapan, memakai pertanyaan ini untuk tau apakah kandidat udah melakukan riset terhadap perusahaan atau belum.

“Karena dalam proses interview itu, penting buat kita melakukan research dulu.

Jadi gak cuma asal apply, tapi tau juga company-nya ini apa, visi misinya apa, produknya apa, siapa CEO-nya, siapa pemimpin-pemimpinnya,” jelasnya.

“Kalau aku pribadi, aku akan cari yang personal mission-nya sama dengan misinya company.

Karena itu bisa secara gak langsung, dia punya pegangan buat bekerja.

Sehingga ketika bekerja, tenure-nya bisa lebih lama. Gak gampang pindah-pindah.”

Pertanyaan #4 - Satu kalimat tentang perusahaan kami buat kamu?

Menurut Radhitia Pradana, Social Media Lead di E-commerce, penting buat kandidat tau dari sisi bisnis perusahaannya, bukan cuma soal technical skill!

“Aku akan melihat dan expect gak cuma dari knowledge social media, tapi juga gimana kandidat ngerti business model perusahaannya.

Karena kalau kamu cuma tau teorinya aja, tapi gak tau bisnisnya kayak gimana, gak nyambung.

Gak punya ide apa-apa dan gak tau mau bawa apa.

Cuma yaudah disuruh A, kerjain A. Semua orang juga bisa gitu,” jelasnya.

“(Aku) bisa tanya apa yang diketahui tentang company.

'Satu kalimat tentang perusahaan kami buat kamu?' karena itu beda-beda ya tiap orang.

Kalau yang dia jawab berdasarkan Wikipedia, udah pasti big no no.

Aku pengen tau isi otaknya tentang perusahaan tersebut seperti apa.”

Pertanyaan #5 - Sudah review apa aja tentang perusahaan? Apa yang kamu tau dari hasil review itu?

Pertanyaan ini jadi salah satu pertanyaan lanjutan yang biasanya ditanyain Radhitia.

“Misalnya kandidat ngomong, 'Oh aku udah review sosmednya Kak, terutama Twitternya,'

Then, aku akan bilang “Oke kita ngomongin Twitter sekarang. Apa yang kamu tau?”

Maka, selain review tentang perusahaannya, kamu juga harus paham dari segi teknikalnya, ya!

Pertanyaan #6 - Menurutmu, gimana social media (atau posisi terkait) bisa membantu perusahaan untuk berkembang?

Salah satu strategi yang dipakai Radhitia saat user interview adalah menanyakan apa yang udah diceritakan/dilakukan kandidat, termasuk pertanyaan ini!

Kenapa, ya?

“Karena as a user interview, itu kan yang akan jadi calon partner-nya kita, jadi aku nyelipin pertanyaan tersebut untuk tau seberapa besar curiosity dan etos kerjanya dia.

Caranya gimana? Caranya adalah ngomongin soal survey, riset, dan aku ngupas habis sampai dalem banget. Aku mau tau kesiapan dia kerja gimana?

Kalau dia niat, menguasai, dan emang pengen banget keterima, pasti udah riset banyak. Jawabnya juga pasti udah nyantai karena udah tau semuanya, udah tau mau bawa apa.” katanya.

At the end, aku pasti akan reflect gimana aku akan kerja sama dia. At least dari pertanyaan-pertanyaan basic dulu.

Kalau misalnya dapet anak yang 'Oh iya Kak, aku udah riset AIUEO. Menurut aku, perusahaan harusnya melakukan …' berarti anak ini kritis, punya kreativitas yang tinggi.

Tapi kalau 'Udah bagus kok, Kak!' berarti dia yes man, gak teliti, dan kreativitasnya gak sedalam itu.”

Pertanyaan #7 - Jika kamu terpilih di posisi ini, apa yang akan kamu lakukan?

Ini adalah pertanyaan favorit Syarifah Suci Armilia, Group CRM & Loyalty Manager di HappyFresh.

Karena dari pertanyaan ini, dia bisa lihat jawaban kandidat dari banyak dimensi!

“Dari jawabannya, aku bisa ngeliat dari banyak dimension.

Misalnya, apakah dia udah riset tentang company sedalam itu?

Kalau misalnya udah riset, pasti jawabannya at least close dengan strategi yang udah kita bikin.

Selain dia ngerti customer kita siapa, kompetitornya siapa, company ini gain revenue-nya dari mana, akan ngeliat juga dia itu ada inisiatif atau gak, curiosity-nya tinggi atau gak, dan apakah dia orang yang bisa berpikir strategis atau gak,” jelasnya.

Sebagai manager di salah satu start up di Asia Tenggara, Syarifah biasanya akan cari orang yang punya inisiatif tinggi!

“Karena tipikal start up itu, kita biasanya kerja mandiri. Gak yang dapet direction dari atasan terus.

Tapi, you also have to propose ideas or something new juga.”

Jadi, pastiin untuk riset tentang perusahaan dan buat strategi improvement yang mau kamu lakukan!

Pertanyaan #8 - Dengan pengalaman dan kemampuanmu, bagaimana kamu bisa berkontribusi di perusahaan?

Dengan pertanyaan ini, Intan Reza Nursaidah, Advertising & Partnership Manager di Bukalapak akan melihat bagaimana kandidat membawa (present) dirinya sendiri.

“Harapan jawabannya adalah gimana dia bisa refleksiin pengalaman sebelumnya dan contribute ke company,” katanya.

Misalnya:

Selama di RevoU, aku belajar gimana caranya execute campaign di Facebook yang bagus, dengan best practice.

Dimana hasil yang kudapat CPA-nya bisa lebih rendah.

Aku yakin bisa improve campaign-campaign perusahaan agar dapat hasil yang maksimal.”

Pertanyaan #9 - Kenapa kami harus memilih kamu dan bukan kandidat yang lain?

Pertanyaan ini termasuk dalam pertanyaan killer ala Glory Gracia Christabelle, Licensed Master Practitioner of Neuro-Linguistic Programming.

Jadi, ditanya gak ditanya, kamu harus bisa selip-selipin di jawabanmu!

Soalnya, kalau kamu bilang “Saya lulusan RevoU”, begitu juga dengan ratusan orang lainnya!

Contekan dari Glory adalah dengan pakai kombinasi pengalaman, value, dan apa yang dilihat dari masa depanmu. Ini yang akan jadi Unique Selling Point (USP) kamu!

“Karena kan background, value, dan apa yang kita lihat dari masa depan kita memberikan uniqueness buat diri kita.

Mungkin aja ada orang yang punya background yang mirip dengan kita, atau ada yang punya pandangan/value yang mirip dengan kita. Jadinya itu gak unique banget.

Tapi, belum tentu ada orang yang punya ketiga kombinasi itu seperti kita!”

Glory menyarankan untuk bisa fokus ke value dan definisi kamu terhadap value tersebut.

Misalnya, thrill, problem-solving, dan decision-making.

Kamu bisa rangkai jawabannya seperti di video ini!

Lalu, cantumkan juga tagline dari value tersebut di banner LinkedIn biar bisa di-approach duluan sama perusahaan.

Misalnya, “Data Analyst who thrills to be a problem solver” atau "Data Analyst for a better user experience" seperti punya Pien!

Terbukti loh dari cerita Pien, dia direkrut langsung oleh user Data Analyst Siloam Hospitals!

Perhatikan juga, karena pertanyaan ini bukan bicara tentang kamu aja, tapi juga perusahaan!

“Pada saat memperkenalkan diri, ini bicara tentang kamu atau mereka (perusahaan)?

Mereka butuh perkenalan diri kamu atau butuh cari orang yang bisa meringankan bebannya mereka?” tambah Glory.

Jadi, pastikan juga kalau kamu jadi solusi atas permasalahan yang dihadapi perusahaan, ya!

#2 Contekan Kecocokan di Perusahaan (9 Pertanyaan)

Pertanyaan #1 - Apa pengalaman yang bisa kamu highlight?

Ketika Intan menanyakan highlight story ke kandidat, biasanya mereka akan menceritakan achievement atau problem yang pernah diselesaikan.

Ini akan menunjukkan sejauh mana skill-nya dan personality-nya.

Either itu success story atau problem to solve, biasanya di pengalaman sebelumnya punya highlight story.

Gak harus success story, tapi bisa juga problem yang pernah diselesaikan. Itu kan salah satu analytical skills yang mereka punya,” jelasnya.

Buat kamu yang Fresh Graduate dan Career Switcher, kamu bisa pilih pengalaman yang menggunakan transferrable skills dengan posisi yang kamu lamar.

Untuk mempermudah, susun ceritamu dengan metode STAR, ya!

Pertanyaan #2 - Bagaimana kamu beradaptasi ketika pindah ke industri yang baru?

Career Switchers, pastikan juga untuk menyiapkan cara adaptasi untuk pindah ke industri yang baru, ya!

Karena menurut Intan, pertanyaan ini memang cukup basic, tapi bisa gak disangka-sangka ditanyakan oleh user.

Pertanyaan #3 - Kamu lebih suka bekerja yang seperti apa?

Kecocokan kandidat dengan culture company bisa dilihat melalui personal mission-nya.

Kalau misinya udah cocok, berarti kemungkinan besar culture company akan cocok juga.

Tapi, pertanyaan ini digunakan Afriza untuk melihat kecocokan kandidat dengan tim.

“Misalnya, dia lebih suka yang terstruktur. Sementara di team ini lebih agile.

Bisa jadi dia kurang cocok nih sama team,” katanya.

Buat persiapan, kamu bisa banget loh networking ke calon rekan kerja dan tanya-tanya terkait culture tim!

Pertanyaan #4 - Apa project paling menantang menurut kamu?

Pertanyaan ini akan menjawab banyak hal, seperti problem solving dan kompleksitas challenge-nya, kata Afriza.

“Misalnya, menurut kandidat, kompleksitas challenge-nya gak terlalu besar. Sedangkan, kita butuh yang lebih besar.

Wah, ini kayaknya gak bisa handle big project yang akan kita kasih.”

Afriza biasanya akan memberikan pertanyaan lanjutan seperti, “Kenapa pilih project itu?” dan “Apa yang kamu lakukan di situ?”

“Aku akan gali sampai dapat result-nya dia apa.

Baru nanti dilihat. Nyambung gak nih antara action dan result-nya?

Kalau misalnya action-nya besar tapi result-nya kecil, berarti bisa jadi orang ini kurang efektif. Itu akan jadi notes,” lanjutnya.

Pertanyaan #5 - Gimana cara kamu mencari ide?

Kalau Syarifah lagi cari kandidat yang kreatif, dia akan menanyakan pertanyaan ini untuk mendapat insight tentang proses berpikirnya!

“Aku juga akan cek portofolionya gimana?

Dan aku pasti akan cek Instagramnya, karena orang yang visually creative, foto-fotonya biasanya bagus!”

Cek contoh portofolio digital marketing dan portofolio data analytics di sini.

Pertanyaan #6 - Gimana cara kamu develop diri sendiri?

Pertanyaan ini akan disesuaikan dengan value perusahaan.

Salah satu contoh dari Maulana adalah value Stockbit - Bibit, yaitu keinginan kuat untuk belajar.

Melalui pertanyaan ini, Maulana bisa tau gimana kandidat belajar suatu hal di dalam maupun di luar keahliannya.

Kamu bisa belajar dari berbagai macam sumber, seperti blog, Youtube, podcast, buku, kursus, dan lain-lain. Cek rekomendasi-rekomendasinya di sini, ya!

Pertanyaan #7 - Apa topik-topik teknologi terkini yang menarik buatmu?

Pertanyaan ini jadi favorit Maulana untuk cek apakah kandidat memiliki keinginan kuat untuk belajar dan rasa penasaran yang tinggi.

Takeaways-nya adalah untuk tau apa kandidat beneran belajar atau gak, belajar sesuatu gak di luar expertise-nya?” jelasnya.

Biar bisa up-to-date terus sama teknologi terkini yang sesuai sama target posisi kamu, pantengin 10 website ini deh!

Pertanyaan #8 - Misalnya, kamu lagi buat Fitur A, tapi tiba-tiba ada error di Fitur B yang sebelumnya sudah dikerjakan. Apa yang akan kamu kerjakan lebih dulu?

Misalnya, di Stockbit - Bibit, salah satu value lainnya adalah customer-oriented.

Untuk tau apakah kandidat cocok dengan value tersebut, Maulana juga memberikan pertanyaan case study.

Pertanyaan #8 ini biasa ditujukan untuk Data Analyst!

“Dia jawabnya gak mungkin 'Fitur A, karena fitur B kan udah aku kerjain'

Tapi jawabnya lebih dia bisa menentukan skala prioritas. Dilihat dulu error-nya urgent atau gak? Bisa di-handle sekarang atau nanti?

Dengan adanya jawaban skala prioritas itu, menunjukkan dia bisa tau mana yang urgent.

Karena kita kan facing customer, of course dia mendahulukan yang sifatnya urgent,” jelasnya.

Urgent pun ada level-levelnya. Misalnya berhubungan sama payment atau uang, berarti itu top level.”

Pertanyaan #9 - Anggaplah saat ini kamu punya beberapa pekerjaan atau harus handle beberapa client, dan mereka semua memaksa kamu untuk menyelesaikan semua yang mereka butuhkan. Apa yang akan kamu lakukan?

Mirip dengan Maulana, Dianing juga suka memberikan pertanyaan case study untuk kandidatnya.

Kenapa?

“Dengan nanya case study, mostly kandidat akan reflect ke pengalaman sebelumnya.

Kita jadi lebih tau apa yang benar-benar akan dia lakukan kalau menghadapi situasi seperti itu,” jelasnya.

Pertanyaan #9 ini juga bisa dijawab dengan menggunakan skala prioritas (Eisenhower Matrix), loh! Kayak gini contohnya..

#3 Contekan Kemampuan Kerja di Tim (6 Pertanyaan)

Pertanyaan #1 - Kegiatan apa yang paling kamu suka?

Seringkali, rekruter bisa lihat attitude kandidat saat interview!

Strategi yang dipakai Afriza adalah dengan membuat interviewnya lebih casual untuk bisa mendapatkan skill komunikasi dan pembawaan kandidat.

Pertanyaan ini jadi salah satu pertanyaan casual yang sering ditanyakan Afriza!

“Jadi sebenarnya, casual itu bisa membantu kita mengeluarkan sisi orang tersebut.

In a positive and negative way.

At least, dia bisa jadi dirinya sendiri ketika settingan interviewnya casual.”

Perlu diingat untuk tetap profesional juga, ya! Jangan sampai mengatakan hal-hal yang konotasinya buruk saat interview.

Pertanyaan #2 - Gimana cara kamu membangun koneksi dengan team atau atasan kamu?

Pertanyaan ini juga bisa ditanyakan dengan cara yang berbeda oleh Afriza.

Misalnya, “Punya challenge pas kerja sama team? Gimana cara kamu menyelesaikannya?”

“Kuncinya, jangan fokus sama masalahnya.

Tapi, kita pengen tau gimana cara kamu selesaiin masalah itu. Gimana cara keluar dari problem itu?

Pengen tau juga, dia tuh tipe orang yang badmouthing gak? Kalau kandidat yang bagus, dia akan ceritain masalahnya dan gimana cara dia selesaiin itu,” jelasnya.

Cek juga strategi bangun koneksi dengan team/atasan dari Career Coach RevoU!

Pertanyaan #3 - Struktur kerja di perusahaan sebelumnya? Peran di posisi sebelumnya?

Dari pertanyaan ini, Radhitia mau tau gimana kandidat bekerjasama dalam tim? Apa aja yang dia lakukan? Hasilnya seperti apa?

Kamu bisa menjawab pertanyaan ini dengan metode STAR, ya!

Pertanyaan #4 - Ceritakan pengalaman paling gak enak saat berhubungan sama teman-teman kerja di perusahaan sebelumnya. Gimana kamu menghadapi situasinya?

Radhitia memilih untuk menanyakan pengalaman gak enak untuk mengetahui apa yang bisa dipelajari kandidat dari pengalaman tersebut.

“Karena kalau kamu gak terbentur, kamu gak terbentuk.

Once kamu dapet pengalaman buruk, pengalaman gak enak, emang struggle. Tapi at the end, here you are standing here di depanku.

Berarti, kamu survive.

Berarti, kamu pasti punya learning-nya. Itu yang aku cari, itu yang paling penting,” jelasnya.

Pertanyaan #5 - Di pengalamanmu sebelumnya, adakah momen ketika kamu mendapat tekanan dari atasan? Gimana kamu mengatasinya?

Kita gak bisa 100% justify apakah teamwork-nya oke atau gak sebelum kita bener-bener kerja sama dia.

Jadi, yang paling logic yang bisa dilakukan adalah kita liat CV-nya. Apakah dia pernah kerja sama orang lain gak?

Suka berorganisasi? Ada promosi (kenaikan jabatan)? Pas interview, nyaman gak ngobrolnya?

-Syarifah Suci Armilia, Group CRM & Loyalty Manager di HappyFresh

Selain itu, dengan bertanya pengalaman sebelumnya, Syarifah juga bisa melihat apakah kandidat bisa handle tekanan dengan baik atau gak.

“Biasanya, orang kalau diinterview akan nervous.

Ketika mereka nervous, mereka ngerasa pressure-nya banyak.

Itu juga akan keliatan mana kandidat yang bisa handle pressure well. Kalau mereka agak susah kontrol emosinya, itu jadi sign buat aku.

Jadi kita juga read between the lines, bukan cuma yang dia ucapkan, tapi juga yang dia perlihatkan dari cara dia jawab.”

Pertanyaan #6 - Misalnya, kamu adalah satu-satunya senior dalam tim Data Analytics dan atasanmu mendadak sakit. Apa yang akan kamu lakukan kalau ada C-level yang memintamu presentasi?

Menurut Maulana, pertanyaan case study seperti ini akan memberikan insight berupa kolaborasi dalam tim, inisiatif dan persiapan kandidat.

“Dari sini, bisa di-follow up dengan berbagai pertanyaan.

Misalnya:

  • Ngobrolin apa dengan tim?
  • Kamu akan present apa?
  • Sikap ke C-levelnya nanti akan gimana? Apakah langsung suggest insight-nya, atau karena atasan sedang sakit, jadi kamu harus nunggu atasan dulu?

Dengan case study seperti ini, akan banyak pertanyaan yang muncul di belakangnya (follow up questions) dan bisa disesuaikan dengan keadaan company,” jelasnya.

#4 Contekan Keterbukaan terhadap Kritik (6 Pertanyaan)

Pertanyaan #1 - Apa dampak dari project yang kamu kerjakan? Gimana feedback orang-orang di sekeliling kamu?

Untuk tau keterbukaan kandidat terhadap kritik, Dianing berangkat dari apa yang udah dikerjakan kandidat.

Dari pertanyaan ini, Dianing mau tau apa ada improvement yang harus dibuat? Gimana tanggapan kandidat ketika menerima feedback dari rekan kerjanya?

Pertanyaan #2 Kalau kamu bekerja di sini dan ada beberapa skill/tools yang belum kamu pelajari, apa yang bisa kamu lakukan?

Terkadang, kamu bisa mendapatkan feedback terkait skill/tools yang belum kamu kuasai.

Maka dari itu, Glory menanyakan pertanyaan seperti ini. Bisa kamu jawab pakai metode STAR juga, loh!

Kamu bisa memberikan contoh terkait skill/tools yang belum dipelajari, lalu apa yang akan dilakukan step by step, kemudian hasilnya akan seperti apa.

Biar banyak tau tentang tools yang sering dipakai, coba deh pelajari tools di bawah ini!

Pertanyaan #3 - Ketika ada masukan/keluhan dari user, apa yang bisa kamu lakukan untuk menghadapinya?

Untuk bisa tau gimana kandidat merespon kritik, Glory juga suka memberikan case study seperti pertanyaan ini.

Kalau dapet pertanyaan ini, kamu bisa coba jelasin step by step:

  1. Meredam emosi dari user/client
  2. Memetakan penyebab masalah secara objektif
  3. Menentukan next step yang akan kamu lakukan

Pertanyaan #4 - Apa kritik paling pedas yang pernah kamu terima? Gimana kamu memandang itu?

Menanyakan kritik paling pedas adalah salah satu favoritnya Afriza!

Kenapa?

Katanya, “Aku liat dari seberapa kompleks dia meng-handle problem-nya dan sudut pandang dia terhadap sebuah kritikan.”

Pertanyaan #5 - Di performance review kantor sebelumnya, feedback apa yang kamu dapat dari atasan? Gimana kamu memandang feedback tersebut?

Gak cuma itu, sebenarnya Afriza juga bisa menanyakan terkait pengalaman performance review dari kantor sebelumnya.

Dia akan melihat seperti apa feedback dari atasannya dan respon kandidat terhadap feedback tersebut.

Pertanyaan #6 - Kalau di dalam kerja kamu membuat kesalahan, apa yang biasanya dilakukan atasan atau rekan kerja?

Kalau untuk Fresh Graduate yang mungkin belum punya pengalaman kerja, biasanya Afriza akan menanyakan pertanyaan situasional seperti ini.

Dari jawaban kandidat, Afriza bisa melihat gimana kandidat memandang sebuah feedback.

“Justru, yang aku mau tau sebenernya lebih besar di sudut pandangnya terhadap kritikan itu.

Dia tuh memandang kritikan itu apa?

Apakah sebagai hal yang membangun atau dragging down?

Pengen tau juga respon dia setelah dapat kritikan itu apa?” jelasnya.

#5 Contekan Kemampuan Memimpin (5 Pertanyaan)

Pertanyaan #1 - Gimana cara manage waktumu?

Skill memimpin gak harus dari memimpin tim aja, tapi juga memimpin diri sendiri.

Salah satu cara memimpin diri sendiri adalah dari time management. Inilah yang ditanya oleh Radhitia!

“Karena dari sini akan keliatan gimana cara kamu memimpin dirimu sendiri.

Bisa gak luangin waktu untuk ada leisure time (waktu luang) buat diri sendiri?

Dan di sini, just be yourself! Jangan dibagus-bagusin, karena akan keliatan fake-nya!” katanya.

Kamu juga bisa cek tips work-life balance sebagai Social Media Specialist ala Radhitia di podcast ini!

Pertanyaan #2 - Selama gap year ini kamu ngapain aja?

Buat kamu yang sempat ada gap year, bisa jadi kamu akan menemukan pertanyaan kayak gini!

Apa sih yang rekruter mau tau dari pertanyaan ini?

“Aku mau tau gimana cara dia nge-handle problem-nya.

Kalau selama gap year ini kamu bisa jawab kenapa dan apa result-nya, that’s good! Kalau gak bisa, itu jadi mencurigakan,” jelas Radhitia.

Pertanyaan #3 - Dalam suatu waktu kamu diminta memimpin sebuah rapat. Hal apa yang pertama kali akan kamu bahas?

Dari pertanyaan ini, Afriza bisa melihat gimana kemampuan memimpin kandidat. Apakah sudah matang atau perlu dikembangkan lagi.

“Biasanya, kalau leadership skills-nya keliatan, dari segi komunikasi juga akan persuasif. Gak terburu-buru dan agresif,” kata Afriza.

“Kalau dia ngebahas tentang pekerjaannya (individual), biasanya dia lebih to the point dan leadership skill-nya masih kurang.

Tapi, kalau dia ngebahas tentang organisasinya, berarti (pandangannya) lebih luas dan leadership skill-nya lebih keliatan.”

Pertanyaan #4 - Pernah menghadapi suatu permasalahan saat memimpin tim? Apa yang kamu lakukan?

Pertanyaan ini akan memberikan Dianing gambaran tipe leader kandidat.

Apakah dia termasuk leader yang selesaiin masalah sendiri dan team terima jadi aja?

Atau leader yang selesaiin bareng-bareng sama team?

Biar lebih kenal sama tipe kepemimpinan sendiri, baca 11 Leadership Styles dari Hubspot!

Pertanyaan #5 - Misalnya, kamu harus memimpin tim untuk project, dengan background team yang berbeda-beda dan belum pernah kerja bareng. Apa 5 step seorang pemimpin yang akan kamu lakukan supaya team bisa mencapai tujuannya?

Pertanyaan ini juga jadi salah satu favorit Dianing untuk tau cara memimpin kandidat.

Kenapa?

“Karena itu juga yang biasanya ditanyain ke leader: Dalam 90 hari pertama, apa yang mau kamu accomplish?

Kalau kamu aja gak tau apa yang mau dilakuin, pasti teman-teman team juga akan goyang semua.

Sebenernya, ide 5 step seorang pemimpin dari situ,” jelasnya.

Yuk, bikin teamwork-mu makin mantep pakai 7 hacks ini!

#6 Contekan Manajemen Konflik (6 Pertanyaan)

Pertanyaan #1 - Deskripsikan diri kamu ketika kamu lagi menghadapi tekanan

Selain bisa mengetahui gimana kandidat menghadapi tekanan, Intan juga bisa mencocokkan cara kerja kandidat dengan perusahaan, khususnya start up.

“Kalau di start up, pacing-nya itu kan cepat. Start up tends to be flexible, very fluid.

Jadi, cocok untuk orang yang bisa fast pacing dan kalau ada perubahan di tengah jalan, gak terlalu terganggu.”

Pertanyaan #2 Bayangin kamu di Fintech dan ada potensi fraud. Apa yang akan kamu lakukan?

Di sisi lain, Maulana lebih suka memberikan case study yang berhubungan dengan industrinya. Contohnya kalau di Fintech, ada potensi fraud/penipuan.

“Biasanya dari situ ketahuan gimana dia manage konfliknya.

Gimana caranya raise issue? Apakah ke atasan dulu atau langsung ke divisi terkait?

Gimana treatment-nya terhadap konflik ini?” jelasnya.

Pertanyaan #3 Ceritakan pengalaman ketika kamu ketemu dengan masalah. Gimana kamu menghadapi situasi itu?

Pertanyaan ini tergolong cukup general dan bisa ditanyakan ke berbagai macam kandidat oleh Syarifah.

Dengan menanyakan pengalaman, Syarifah akan dapat gambaran gimana kandidat menghadapi masalah kalau terjadi masalah serupa.

Pertanyaan #4 - Kalau kamu salah set up campaign, apa yang akan kamu lakukan?

Menurut Syarifah, hal ini biasa dialami oleh tim digital marketing, khususnya campaign operations.

Gak jarang malah jadi buang-buang budget karena salah set up!

Tentunya, yang mau didapat dari jawaban kandidat adalah reaksi kandidat saat melakukan kesalahan dan langkah apa yang akan dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Pertanyaan #5 - Misalnya, ide kita dan kompetitor sama. Tapi, kompetitor launch ide tersebut lebih dulu. Apa yang akan kamu lakukan?

Pertanyaan ini lebih erat untuk posisi digital marketing, tapi gak menutup kemungkinan bisa ditanyakan di Product Management atau Data Analytics, loh!

Menurut Syarifah, ini termasuk pertanyaan case study yang memang biasa dialami oleh tim digital marketing.

Kayak di slide ke-5 suka-dukanya Admin Social Media, nih!

Pertanyaan #6 - Kita punya masalah di prioritization and segmentation (CRM). Kalau kamu ketemu dengan masalah ini, apa yang akan kamu lakukan?

Pertanyaan ini biasa ditanyakan Syarifah untuk posisi Customer Relationship Management (CRM).

Jadi, pastikan untuk cari tau juga challenge yang biasa dihadapi posisi target kamu apa aja.

Bakalan lebih mantep kalau kamu bisa menjawabnya dengan poin-poin strategi dan terstruktur!

#7 Contekan Kemampuan Teknikal (16 Pertanyaan)

Digital Marketing

Pertanyaan #1 - Apa ide campaign baru untuk meningkatkan awareness, tapi budget terbatas?

Dalam membuat campaign/media plan, Intan menyarankan untuk membuat talking points supaya jawabanmu lebih terstruktur!

Contohnya:

Lalu, elaborasi talking points ini dengan ide dan strategi yang akan kamu ajukan. Berikan juga alasan pemilihan strategi itu, ya!

Pertanyaan #2 - Gimana cara menaikkan CTR/Engagement Rate/ROAS (metrics)?

Pertanyaan ini biasanya jadi pertanyaan lanjutan setelah kamu cerita tentang pengalamanmu!

Menurut Intan, rekruter akan menanyakan hal-hal ini:

  • Apa yang kamu temukan dari pengalaman itu? Misalnya, ada kenaikan CTR atau Engagement Rate.
  • Kenapa bisa ada fenomena itu? Berikan hasil analisismu.
  • Gimana caramu melakukannya? Apa rencana ke depannya supaya hasil lebih baik? Berikan media/campaign plan berdasarkan analisis.

Biar makin mantep strateginya, contek dulu rumus-rumus tiap metrics!

Pertanyaan #3 - Metrics apa yang penting diperhatikan di (social media platform)?

Untuk tau seberapa dalam kandidat menguasai platform-platform di sosial media, Radhitia akan menanyakan metrics-metrics yang penting untuk platform tersebut.

Langsung aja nih, cek contekan metricsnya!

Pertanyaan #4 - Konten seperti apa yg harus dibuat di (social media platform)

Dari segi konten juga akan ditanyain, loh!

Menurut Radhitia, ini akan memberikan insight tentang kreativitas kandidat dan seberapa dia ngerti tentang ekosistem social media: organic, ads, dan Key Opinion Leader (KOL).

Pertanyaan #5 - Skills & Interests Scale (1-10)

Ini salah satu pertanyaan favorit Radhitia dan sering ditanyakan pas user interview!

Simple-nya, di pertanyaan ini, kamu akan ditanyain seputar platform social media ataupun interest.

Misalnya: Twitter, Instagram, Facebook, LinkedIn, Netflix, K-pop, Bola, dan lain-lain.

Kamu cukup jawab dengan 1-10. Angka 1 berarti kamu gak suka/gak menguasai, 10 berarti suka banget/menguasai banget!

Pastiin untuk tetap jujur ya. Karena akan ada pertanyaan lanjutan untuk verifikasi!

Biar lebih kebayang cara Radhitia nanya pertanyaan ini, putar podcast ini deh!

Pertanyaan #6 - Komentari salah satu campaign perusahaan di (social media platform). Apa yg mau kamu improve?

Selain tau seberapa dalam kamu udah riset tentang perusahaannya, Radhitia juga akan melihat kreativitasmu dan gimana kamu menguasai social media platform dari improvement points yang kamu ajukan!

Pertanyaan #7 - Menurut kamu, gimana kualitas konten perusahaan di (social media platform)? Apa yang mau kamu improve?

Serupa dengan pertanyaan sebelumnya, dengan pertanyaan ini Radhitia bisa mendapat insight seputar kesiapan, kreativitas, dan penguasaan social media-mu.

Supaya improvement plan-mu bikin rekruter terkesan, contek 6 strategi konten ini!

Pertanyaan #8 - Fitur-fitur apa aja yang ada di (social media platform)?

Pertanyaan ini bisa jadi pertanyaan verifikasi dari Pertanyaan #5 - Skills & Interests Scale yang diajukan Radhitia, loh!

Atau, Radhitia juga bisa nanya terkait strategi yang digunakan di platform itu.

Misalnya: Gimana cara masuk Trending Topic di Twitter? Gimana cara masuk FYP? Dan lain-lain.

Baca juga: Tips Lulus Interview sebagai Social Media Specialist

Data Analytics

Pertanyaan #1 - Sebutkan dan jelaskan teknik analisis data dan implementasinya

Sebagai Tech Recruiter, Maulana udah tau banget nih soal proses analisis data yang berjenjang.

Mulai dari gathering data, cleaning data, sampai data visualization.

Jadi, saat menjelaskan jawabanmu, pastikan jawabannya terstruktur. Bisa juga loh pakai problem-solving framework ini!

Pertanyaan #2 - Kenapa (metode analisis) penting?

Ini bisa menjadi pertanyaan lanjutan dari pertanyaan sebelumnya.

Maulana bisa menanyakan kenapa cleaning data itu penting? Kenapa harus melakukan visualisasi data seperti itu? Dan lain-lain.

Jadi, coba latihan untuk breakdown setiap metode analisis dan cari tau kenapa harus melakukan hal itu!

Pertanyaan #3 Apa persamaan dan perbedaan atau pro dan kontra Tableau vs Power BI?

Selain metode analisis, Maulana juga biasa menanyakan terkait tools!

Ini untuk mengetahui pengetahuan data analytics tools dan apakah kandidat menguasainya atau gak.

Pertanyaan #4 Analytical tools apa yang biasa kamu pakai?

“Kalau lagi cari posisi yang butuh data analytics, aku bakalan tanya:

  • Kamu kemampuan Excelnya seperti apa? Rumus apa yang dipakai?
  • Bisa pakai pivot table?
  • Analytical tools apa yang biasa dipakai?”

Selain dari sisi teknikal, Syarifah juga akan melihat kecocokan kandidat dengan posisi yang dibutuhin, loh!

Pertanyaan #5 - Saya mau meningkatkan sales. Metrics apa aja yang penting? Gimana cara mengukurnya?

“Kalau Data Analytics, segalanya harus terukur dan harus business-minded juga!

Harus bisa jadi business partners bagi user-usernya.

Usernya bisa jadi manajemen (C-level), functional (departemen tertentu seperti marketing, sales), customer, dan lain-lain.

Apapun itu usernya, mereka harus bisa jadi business partners,” kata Glory.

Jadi, dalam menjawab pertanyaan ini, jelaskan dengan terstruktur metode dan tools yang kamu pakai. Sertakan juga metrics yang penting untuk diperhatiin!

Tapi, mau apapun tools yang biasa kamu pakai, pastikan kamu paham banget tentang bisnisnya.

“Coba perdalam business understanding-nya.

Kamu pakai metode analisis apa? Framework berpikir kamu apa? Terus gimana caranya kamu menemukan akar permasalahan dan apa solusinya?

Tools itu kan sebenernya cuma membantu mempermudah pengolahan data untuk mencapai ke tujuan.

Jadi, kerangka berpikir itu penting. Karena bisa jadi tools-nya beda-beda. Tapi, setidaknya kalau udah paham esensinya, mau tools-nya beda-beda, kita bisa pelajari dengan lebih cepat,” jelasnya.

Cek juga: 8 Hacks Interview Data Analyst untuk Pemula!

Product Management

Pertanyaan #1 - Dalam mengurus prioritization, teknik apa yang kamu pakai?

Sebagai Product Manager, ada berbagai macam teknik prioritization yang bisa kamu pakai.

Untuk tau lebih lanjut tentang skillmu, Dianing biasanya menanyakan pertanyaan ini!

Simplenya, kamu bisa menjawab dengan teknik-teknik yang kamu pakai seperti MoSCoW Method, RICE Scoring, Kano Model, dan lain-lain.

Pertanyaan #2 - Di kantor sebelumnya, sudah familiar dengan framework apa?

Ini jadi salah satu pertanyaan andalan Dianing untuk ditanyakan ke kandidat Product Management, loh.

Karena sama seperti teknik prioritization, product management framework pun banyak!

Salah satu contohnya, North Star Framework.

Supaya semakin siap, baca 21 Product Management Frameworks dari Productfolio ini!

Pertanyaan #3 - Kalau melihat design, biasanya pakai tools apa?

Kalau udah nanya soal teknik dan framework, Dianing juga nanya soal tools!

Gak menutup kemungkinan cuma dari sisi design loh, bisa juga untuk proses lainnya seperti tools untuk scrum boards, wireframing, prototyping, dan lain-lain.

Contekan toolsnya bisa kamu liat di sini, ya!


Mau dapet kerja impianmu?

Save contekannya dan latih jawaban interviewmu dengan baik, ya!

Masih agak kesulitan?

Tenang! Di RevoU, ada Career Support dengan 1-on-1 career coaching dan mock up interview yang bisa membantumu mendapatkan karir impian!

Kamu juga bisa coba merasakan gimana jadi student di RevoU selama dua minggu secara gratis di RevoU Mini Course (MC), loh! Cek selengkapnya di sini!

  1. RevoU Digital Marketing MC
  2. RevoU Data Analytics MC
  3. RevoU Product Management MC

Kalau masih bingung, kamu bisa tanya-tanya ke Admin RevoU via DM Instagram juga ya!

Hub Karier

Ervina Desiviola

Ervina is a Content Writer Executive at RevoU. She loves to share some stories through writings. Drowning in thousands of books by developing Fierofea Books (NGO for book donations in Indonesia)!