Panduan Lengkap Product Management di Asia Tenggara bagi Pemula

Insights

Panduan Lengkap Product Management di Asia Tenggara bagi Pemula


Panduan ini ditulis untuk orang - orang yang baru mengenal dunia Product Management, serta mereka yang sudah memiliki pengalaman di bidang ini khususnya jika kamu ingin:

  1. Mempelajari dasar - dasar product management
  2. Mengetahui prospek product management di Asia Tenggara
  3. Mengetahui proses pembuatan sebuah produk
  4. Mempelajari apakah skill product management adalah skill yang tepat untukmu
  5. Mulai belajar product management sebagai persiapan sebelum kamu mengikuti program Product Management di RevoU

Maka guide ini pas untuk kamu!!

Akan ada 7 bagian dalam panduan ini yang dapat kamu pelajari:

  1. Gambaran Product Management di Asia Tenggara
  2. Mengapa Mempelajari Product Management?
  3. Mitos / Miskonsepsi Mengenai Product Manager
  4. Skill yang Dibutuhkan oleh Seorang Product Manager
  5. Bagaimana Product Manager Merumuskan Sebuah Produk
  6. Career Path di Product Management
  7. Sumber Belajar Ilmu Product Management

#1 Gambaran Product Management di Asia Tenggara

Mari kita lihat ilustrasi di bawah ini:

Data yang diambil dari CB Insights menyatakan bahwa sebanyak 42% perusahaan startup di luar sana gagal karena produk tersebut tidak dibutuhkan oleh masyarakat (no market need).

Jika kita melihat realita tersebut secara mendalam, dapat diartikan bahwa sebanyak 42% perusahaan startup yang ada sekarang.

Mengingat hal tersebut, mari kita lihat seberapa banyak permintaan akan posisi product management di Asia Tenggara

Di beberapa negara di Asia Tenggara, Product Management mengalami pertumbuhan lowongan yang pesat. Salah satu perkembangan terbesar terjadi di Singapura (2,820 lowongan) dan Indonesia (894 lowongan).

Tapi mengapa product management mengalami perkembangan yang pesat di Asia Tenggara? Dan kenapa penting bagi kita untuk mempelajari product management?

#2 Mengapa Mempelajari Product Management?

#2.1 Belajar Memahami Pelanggan

Mari perhatikan ilustrasi di bawah ini:

Ilustrasi tersebut menggambarkan adanya 2 entitas:

  • Perusahaan
  • Pelanggan

Pelanggan memiliki masalah yang harus diselesaikan, kebutuhan, dan keinginan yang harus dipenuhi.

Hal tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan produk maupun jasa yang disediakan oleh perusahaan.

Dengan kebutuhan yang terpenuhi tadi, pelanggan akan memberikan timbal balik ke perusahaan dalam bentuk uang (yang nanti akan menjadi pendapatan dan laba bagi perusahaan).

Hal ini sering disebut sebagai value exchange system.

Tugas seorang product manager berdiri di tengah - tengah sistem tersebut. Sudah menjadi kewajiban bagi product manager dan tim produk untuk menambah value dari sebuah produk agar pertukaran value tetap terjadi antara perusahaan dan pelanggan.

Itulah yang membuat pekerjaan seorang product manager menjadi sangat penting di sebuah perusahaan, karena seorang product manager untuk memperhatikan beberapa aspek sekaligus untuk bisa membuat keputusan yang terbaik.

Kemudian, apa yang terjadi ketika tidak ada proses product management yang baik di sebuah perusahaan?

Dalam bukunya Escaping The Build Trap , Melissa Perri memberi nama grafik di atas sebagai Product Death Cycle.

Tanpa tim produk yang memiliki pola pikir product management yang baik, hal tersebut dapat terjadi di sebuah perusahaan.

Semua berawal ketika tidak ada orang yang menggunakan produk tersebut, kemudian pihak perusahaan mulai menanyakan fitur apa yang harus dimiliki / saat ini tidak dimiliki dari produk tersebut, kemudian perusahaan akan membuat produk tersebut.

Ini adalah hal yang terjadi ketika sebuah perusahaan hanya membuat fitur yang diinginkan oleh pelanggan.

Mungkin fitur tersebut hanya digunakan atau dibutuhkan oleh pelanggan tertentu, sehingga tidak ada peningkatan yang signifikan dalam penggunaan sebuah produk.

Hal yang penting untuk dicatat di sini adalah, pekerjaan product manager tidak sesederhana menanyakan “apa yang perlu dibuat?”, karena jika itu kondisinya, maka product management akan menjadi pekerjaan yang sangat mudah.

Sebaliknya, seorang product manager harus bisa menemukan masalah yang dialami oleh pengguna, memvalidasi masalah tersebut, kemudian membuat solusi, dan memvalidasi solusi tersebut.

Proses inilah yang biasanya disebut sebagai double diamond process


#2.2 Belajar Menjadi Orang yang Strategis

Pekerjaan Product Manager sering disandingkan dengan peran yang visioner dan strategi.

Product Manager yang menduduki posisi senior akan memiliki fungsi strategis dalam menentukan arah dan tujuan sebuah produk.

Sebelum membuat sebuah menentukan sebuah visi dan strategi, terdapat beberapa hal yang harus dipahami oleh tim produk terlebih dahulu.

Dalam buku Melissa Perri yang berjudul Escaping The Build Trap terdapat istilah yang disebut sebagai The Product Kata

Proses Product Kata dibagi menjadi 2 bagian, pembuatan strategi dan eksekusi.

Pertama - tama, tim produk harus memahami terlebih dahulu arah dan tujuan dari perusahaan, sebelum akhirnya mereka menganalisis kondisi saat ini dan menentukan tujuan yang ingin dicapai.

Setelah semua itu dilakukan, mereka akan beralih ke langkah eksekusi, sebelum kembali ke tahap awal kembali.

Proses tersebut merupakan sebuah siklus yang akan terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Sehingga dalam membuat visi untuk sebuah produk, sangat penting bagi tim produk untuk memahami empat hal di atas.

Dalam pembuatan strategi dan visi sebuah produk, terdapat sebuah hirarki yang dapat tim produk gunakan untuk membantu menurunkan visi perusahaan menjadi inisiatif produk yang ingin dibangun.

Berikut urutan hirarki yang dimaksud:

  • Goals : Apa yang ingin dicapai dari sebuah produk untuk mencapai visi perusahaan
  • Initiatives : Usaha (secara high level) yang dapat membantu tim untuk mencapai goals
  • Releases : Sebuah inisiatif baru untuk membuat sebuah solusi baru
  • Features : Sebuah aktivitas yang dilakukan oleh user untuk mendapatkan keuntungan dari penggunaan produk
  • Epics : Kumpulan fitur yang memiliki tujuan yang sama (cth : fitur registrasi, pembayaran, dll.)
  • Stories / tasks : Sebuah fungsi yang merupakan bagian dari epics / features yang kemudian diperinci lebih lanjut
  • Sub-tasks : Kumpulan pekerjaan yang harus dilakukan oleh tim produk untuk menyelesaikan stories, epics, maupun features dengan tujuan untuk mendukung goals produk dan perusahaan

#2.3 Belajar Membuat Framework Strategi

Strategi dapat didefinisikan sebagai pola pikir untuk mengambil sebuah keputusan.

Di sisi lain, strategi dapat diartikan akan bagaimana sebuah perusahaan dapat memposisikan dirinya secara unik di pasar dengan memberikan berbagai macam value melalui produk atau jasanya.

Dalam product management, memiliki strategi yang baik juga merupakan kunci kesuksesan sebuah produk. Terdapat dua tahap perumusan strategi yang dapat dilakukan:

  • Strategy Creation

Proses ini dilakukan dengan cara memahami terlebih dahulu arah dari sebuah perusahaan maupun produk, sehingga membantu divisi - divisi yang ada dalam sebuah perusahaan untuk menentukan sebuah keputusan yang sesuai dengan arahan perusahaan.

  • Strategy Deployment

Menjadi orang yang strategis dapat memberikan banyak keuntungan bagi diri kita. Kita dapat menempatkan diri kita satu, dua, bahkan tiga langkah lebih depan dari kompetitor kita.

Melihat hal tersebut, kita harus memastikan bahwa strategi yang dimiliki oleh perusahaan dapat diimplementasikan ke seluruh perusahaan, sehingga sebuah proses strategy deployment sangatlah dibutuhkan di sini.

Dalam beberapa organisasi, terdapat empat tahapan untuk mengimplementasikan sebuah strategi:

Levels

Strategy Deployment

Person in Charge

Vision

Apa yang ingin kita capai dalam 5 - 10 tahun? Posisi apa yang ingin kita capai dalam pasar?

CEO/Senior Leadership

Strategic intent

Tantangan apa yang bisnis kita hadapi saat ini?

Senior leadership / Business leads

Product initiatives

Masalah apa yang bisa kita tangani untuk mengurangi tantangan yang menghalangi visi perusahaan?

Product leadership team

Option

Bagaimana cara kita untuk berbagai permasalahan yang ada

Product dev teams


Untuk memberikan sebuah konteks, berikut contoh visi dari 2 perusahaan teknologi ternama di dunia: Amazon dan Netflix:

  • Amazon: To be the Earth’s most customer-centric company, where customers can find and discover anything they might want to buy online, and endeavors to offer its customers the lowest possible prices.
  • Netflix: Becoming the best global entertainment distribution service, licensing entertainment content around the world, creating markets that are accessible to film makers, and helping content creators around the world to find a global audience.

#3 Mitos / Miskonsepsi Mengenai Product Manager

Bisa dikatakan bahwa peran product manager dalam sebuah perusahaan terkadang memiliki arti yang berbeda.

Kesalahpahaman ini dapat menyebabkan perubahan peran product manager dalam sebuah perusahaan yang pada akhirnya akan menurunkan tingkat efektivitas dari seorang product manager.

Maka dari itu penting untuk mengetahui beberapa miskonsepsi atau mitos dari peran product manager, ini adalah beberapa contohnya:

#3.1 Product Manager membutuhkan latar belakang IT

Dibandingkan dengan miskonsepsi lain, ini adalah miskonsepsi yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari - hari.

Pernyataan ini muncul karena tingkat penyerapan pekerjaan product management yang tinggi di sektor industri digital dan teknologi.

Yang perlu dipahami di sini adalah bahwa tidak ada latar belakang atau jurusan yang spesifik untuk seseorang bisa memulai karirnya di product management.

Banyak product manager di luar sana yang berasal dari latar belakang psikologi, teknik, bahkan filosofi.

Sehingga latar belakang pendidikan seseorang tidak menentukan kemampuan orang tersebut untuk terjun di bidang ini.

#3.2 Product Manager adalah CEO dari sebuah produk

Miskonsepsi ini muncul di awal - awal istilah product manager muncul. Pada saat itu peran product manager tidaklah sejelas yang kita ketahui saat ini.

Product Manager bukanlah CEO, mereka tidak memiliki wewenang untuk mengubah tim dan mengubah arahan perusahaan.

#3.3 Pekerjaan Product Manager selesai setelah produk diluncurkan

Pernyataan juga merupakan salah satu miskonsepsi dalam product management. Miskonsepsi ini terjadi karena seringkali pekerjaan product management disandingkan dengan product management.

Pekerjaan seorang product manager dapat dikatakan “tidak pernah selesai” selagi produk tersebut ada di pasar.

Dengan berkembangnya teknologi, keinginan dan kebutuhan dari pelanggan pun terus berubah, product manager harus mengantisipasi hal tersebut meski sebuah solusi sudah di rilis.

#3.4 Product Management itu sama di setiap perusahaan

Terdapat beberapa alasan mengapa pernyataan di atas tidak benar:

  • Ukuran dari perusahaan

Cakupan product manager akan memiliki perbedaan sesuai dengan ukuran perusahaan dan ukuran tim produk yang saat ini dimiliki. Di perusahaan yang besar, satu orang product manager akan bertanggung jawab akan satu fitur, sebaliknya, di perusahaan yang relatif lebih kecil, product manager dapat bertanggung jawab akan satu jenis produk / platform

  • Jenis industri perusahaan

Beberapa industri akan membutuhkan kemampuan tertentu dari seorang product manager yang belum tentu dimiliki oleh product manager lainnya

  • Budaya perusahaan

Beberapa perusahaan akan memiliki tim yang lebih kolaboratif, dapat berjalan secara mandiri. Namun hal sebaliknya terjadi di perusahaan yang tradisional, dimana goals ditentukan langsung dari orang yang menjabat di posisi yang lebih tinggi.

#4. Skill yang Dibutuhkan oleh Seorang Product Manager

Product Management adalah posisi yang unik. Berbagai macam product manager berasal dari latar belakang pendidikan yang berbeda - beda.

Namun, seorang product manager yang hebat dinilai dari bagaimana mereka memimpin tim mereka dan bagaimana mereka mendengarkan kebutuhan dari pelanggan dan perusahaan.

Terdapat beberapa skill harus dikuasai oleh seorang product manager:

  • Kepemimpinan

Meskipun tidak memiliki otoritas terhadap tim yang dipimpin. Seorang product manager harus memiliki kemampuan untuk memimpin tim tanpa menggunakan otoritas.

Mereka harus bisa meyakinkan tim nya dengan bantuan data dan feedback dari pelanggan agar tim mereka memiliki pemikiran yang sama terkait sebuah produk.

Berikut adalah beberapa cara untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan seorang product manager:

  1. Menjadi mentor bagi tim dengan memberikan teladan dan menjadi contoh yang baik
  2. Membuat proses dan best practice yang meningkatkan produktivitas tim
  3. Membuat kultur kolaborasi yang kuat di antara anggota tim
  4. Mempromosikan budaya customer-centric dengan mengajak tim untuk berpikir seperti pelanggan
  5. Mendengarkan feedback dari tim dan mengimplementasikan feedback
  • Berpikir secara strategis

Peran seorang product manager tidak dapat dipisahkan dengan kemampuannya untuk berpikir secara strategis.

Product Manager dianggap sebagai peran yang visioner, yang bisa melihat bagaimana pasar berkembang dan muncul dengan sebuah rencana untuk mengantisipasi perubahan tersebut. Maka dari itu, kemampuan untuk berpikir secara strategis perlu dimiliki oleh seorang product manager.

  • Empati

Menjadi seorang product manager berarti mendengarkan secara aktif apa yang menjadi masalah bagi pengguna produk bahkan masalah yang dialami oleh tim internal. Dengan menjadi orang yang memiliki empati, product manager dapat memahami konteks dari suatu masalah dengan cepat.

Berikut adalah cara untuk meningkatkan rasa empati:

  • Active Listening

Kemampuan untuk melakukan active listening dapat membantu seseorang untuk memahami secara mendalam permasalahan atau perasaan yang dirasakan oleh lawan bicaranya

  • Mengubah insight menjadi aksi nyata

Semua informasi yang diterima oleh pengguna tidak akan ada gunanya jika seorang product manager tidak mengubahnya menjadi sesuatu yang nyata

Hasil riset dari The Product Guy melaporkan bahwa beberapa product manager di perusahaan teknologi besar di Indonesia memiliki kemampuan - kemampuan di atas dengan tambahan kemampuan teknis lainnya (project management, data analysis, dll.)


#5 Bagaimana Product Manager Merumuskan Sebuah Produk

#5.1 Melakukan Riset Pasar & Produk

Riset Pasar dapat didefinisikan sebagai aktivitas untuk mengumpulkan, menganalisis, dan melaporkan data serta temuan untuk menentukan situasi yang saat ini sekarang dihadapi oleh perusahaan.

Dalam pengimplementasiannya, terdapat beberapa jenis riset yang dapat diimplementasikan

By Source

By Methodology

By Objectives

  • Primary Research

  • Secondary Research

  • Quantitative Research

  • Qualitative Research

  • Exploratory

  • Descriptive

  • Causal

Riset Market - By Source

  • Primary Research

Primary Research dapat didefinisikan sebagai metode riset yang dilakukan untuk mengumpulkan data secara langsung.

Dapat dikatakan bahwa pihak yang melakukan riset memiliki kepemilikan dari data yang didapatkan.

Primary Research biasanya dilakukan jika suatu perusahaan membutuhkan analisis lebih mendalam mengenai sebuah masalah / solusi.

Berbagai macam metode Primary Research meliputi interview, survey, Focus Group Discussion, dan Observasi. Tim produk dapat melakukan tipe riset ini dalam fase validasi masalah maupun validasi solusi.

  • Secondary Research

Secondary Research dapat dilakukan dengan mencari data yang sudah ada. Berbagai sumber seperti artikel, riset, maupun jurnal dapat dijadikan salah satu acuan dalam melakukan riset ini. Tidak seperti Primary Research, tujuan dari Secondary Research adalah pengumpulan data dari sumber yang ada

Riset Market - By Methodology

  • Quantitative Research

Secara sederhana, tipe riset ini dilakukan untuk mendapatkan data / statistik yang deskriptif. Hasil riset yang merupakan data deskriptif kemudian dianalisis untuk mendapatkan sebuah kesimpulan.

Metode ini membutuhkan jumlah sampel yang relatif lebih besar dibandingkan metode kualitatif untuk mendapatkan hasil yang akurat. Survei merupakan salah satu contoh dari metode riset kuantitatif.

  • Qualitative Research

Berbeda dengan metode riset kuantitatif, metode ini bertujuan untuk mengetahui motivasi, perilaku, dan perasaan dari seorang pengguna secara mendalam. Dibandingkan dengan metode kuantitatif, jumlah sampel dalam metode riset ini relatif lebih kecil. User Interview merupakan salah satu metode untuk melakukan riset kualitatif.

Riset Market - By Objectives

  • Exploratory

Tujuan dari riset ini adalah untuk menemukan motivasi dari seorang pengguna. Metode ini dapat dilakukan ketika sebuah perusahaan / tim produk tidak memiliki informasi yang cukup di fase awal pembuatan produk. Contoh pertanyaan yang bisa ditanyakan adalah:

  • Apakah kamu merasa X adalah sebuah masalah bagi kamu?
  • Seberapa besar masalah X mempengaruhi hidup kamu saat ini?

Beberapa contoh metode riset exploratory:  Secondary Research, Focus Groups, Mystery Shoppers, Observations, Interviews.

  • Descriptive

Jenis riset ini bertujuan untuk memberikan konteks terkait kondisi pasar saat ini. Hipotesis yang dihasilkan dari riset ini bersifat spekulatif dan dapat berubah sesuai dengan hasil riset.

Contoh pertanyaan yang dapat ditanyakan seperti:

  • Siapa yang membeli produk kita saat ini?
  • Siapa yang membeli produk kompetitor saat ini?

Beberapa contoh metode riset deskriptif: Interview, survey, secondary research, observasi

  • Causal

Tujuan dari riset ini adalah untuk menemukan hubungan antara dua atau lebih variabel. Contoh pertanyaan yang bisa ditanyakan:

  • Apakah perubahan harga mempengaruhi kamu untuk membeli produk?
  • Apakah tampilan produk ini mempengaruhi kamu untuk menyelesaikan sebuah transaksi?

#5.2 Menemukan dan Memprioritaskan Masalah

Di dunia product management, masalah dapat ditemukan melalui dua cara: Secara kuantitatif dan kualitatif.

Penemuan masalah secara kuantitatif dapat dilakukan dengan melihat product analytics dan melihat metric yang dijadikan acuan dalam sebuah produk.

Dengan melihat data, product manager dapat mendapatkan gambaran awal mengenai kondisi sebuah produk.

Namun, data hanya menunjukan sebagian dari informasi yang dibutuhkan.

Seorang product manager harus bisa memvalidasi apa yang ditunjukkan oleh data dengan berkomunikasi langsung dengan pengguna, di sinilah pendekatan secara kualitatif untuk menemukan masalah dilakukan.

Cara paling mudah dan cepat untuk mendapatkan feedback dari pelanggan adalah melakukan aktivitas user interview.

Dalam product management, terdapat beberapa jenis user interview yang dapat dilakukan, bergantung dari fase produk saat ini.


  • Exploratory Interview : Jenis interview ini dapat dilakukan pada tahapan awal sebelum produk dibuat. Jenis interview ini berguna untuk menemukan motivasi / dorongan dari seseorang ketika mereka melakukan sesuatu. Contoh pertanyaan yang bisa ditanyakan: Ketika kamu ingin melakukan x, apa yang kamu butuhkan? Apa yang kamu rasakan ketika kamu tidak dapat melakukan x?
  • Validation Interview : Ketika seorang product manager sudah mulai menemukan masalah, masalah tersebut harus divalidasi keberadaan nya. Ketika sebuah interview bertujuan untuk memvalidasi masalah / solusi, ini adalah beberapa jenis pertanyaan yang bisa ditanyakan: Apakah x menimbulkan masalah yang berarti untuk dirimu? Apakah y menghambat kamu untuk memenuhi kebutuhan mu?
  • Satisfaction Interview : Jenis interview ini dapat dilakukan ketika sebuah solusi sudah berada di pasar. Tujuan dari interview ini adalah untuk menentukan tingkat kepuasan pelanggan terkait solusi yang sudah ditawarkan. Jenis interview ini juga berguna untuk melihat bagaimana performa produk kompetitor.
  • Efficiency Interview : Jenis interview ini berguna untuk menemukan seberapa efektif solusi yang sudah diimplementasikan.

Proses interview di atas akan terus dilakukan selama siklus produk terus berjalan. Selama perjalanan tersebut, seorang product manager akan menemukan masalah yang beragam. Tugas product manager adalah memprioritaskan masalah tersebut dengan mempertimbangkan seberapa besar dampak masalah tersebut terhadap performa produk atau keberlangsungan perusahaan.

Salah satu metode untuk memprioritaskan masalah adalah dengan menggunakan Eisenhower Framework.

Pada dasarnya, Eisenhower Framework mengklasifikasikan masalah berdasarkan tingkat kepentingan dan urgensi dari masalah tersebut dan membaginya menjadi matriks 2x2 seperti ilustrasi di bawah ini


  1. Do (Important & Urgent) : Ini adalah masalah yang harus segera diselesaikan. Jika masalah ini tidak diselesaikan dalam waktu dekat, maka akan ada konsekuensi negatif yang harus ditanggung baik dalam jangka waktu dekat maupun panjang.
  2. Schedule (Important & Not Urgent) : Ini merupakan jenis masalah yang dialami oleh pelanggan namun dampak negatif yang diberikan tidaklah sebesar yang berada di kuadran “Do”. Namun penting bagi tim produk untuk menyediakan rencana jangka panjang untuk menyelesaikan masalah ini
  3. Delegate (Not Important & Urgent) : Ini adalah jenis masalah yang harus ditangani dalam jangka waktu dekat namun dapat dialihkan kepada tim yang dapat menyelesaikan masalah ini secara langsung.
  4. Delete (Not Important & Not Urgent) : Masalah yang tidak penting dan tidak genting untuk diselesaikan.

#5.3 Memprioritaskan Solusi

Setelah masalah berhasil ditemukan, divalidasi, dan diprioritaskan, seorang product manager bersama tim nya akan berusaha untuk memformulasi sebuah solusi.

Sama halnya dengan fase sebelumnya, seorang product manager dapat memiliki banyak sekali hipotesis yang dapat membantu mereka untuk menyelesaikan masalah yang ada.

Oleh karena itu, penting bagi seorang product manager untuk mengetahui beberapa framework untuk memprioritaskan solusi - solusi tersebut.

  1. RICE Framework

RICE merupakan singkatan dari Reach, Impact, Confidence, dan Effort. Metode ini digunakan untuk membantu tim produk mengestimasi pekerjaan berdasarkan empat komponen tersebut.

Komponen tersebut dapat diukur dengan menggunakan kalkulasi sederhana sebagai berikut:

Reach dapat dikalkulasi berdasarkan berapa banyak pengguna yang akan terpengaruhi dengan adanya solusi tersebut. Sebagai contoh, jika sebuah produk memiliki 10.000 pengguna dan akan ada sekitar 30% pengguna yang terpengaruh oleh sebuah solusi, maka nilai Reach yang dimasukkan dalam perhitungan adalah 3.000.

Impact merupakan seberapa besar dampak positif yang diberikan dengan adanya solusi tersebut dalam sebuah produk. Impact dapat diklasifikasikan dengan menggunakan angka - angka berikut ini:

  • 3 = Dampak sangat besar
  • 2 = Dampak besar
  • 1 = Dampak sedang
  • 0.5 = Dampak kecil

Komponen berikutnya adalah Confidence atau tingkat kepercayaan diri seorang product manager dalam mengimplementasikan solusi yang ada. Adapun beberapa hal yang mempengaruhi tingkat Confidence:

  • Timeline atau waktu yang diberikan untuk menyelesaikan produk
  • Jumlah sumber daya manusia yang dimiliki untuk menyelesaikan produk
  • Jenis teknologi yang dimiliki / dikuasai oleh tim

Untuk mengukur, Confidence, terdapat tiga skala yang dapat digunakan:

  • 50% = Tingkat Confidence Rendah
  • 80% = Tingkat Confidence Sedang
  • 100% = Tingkat Confidence Tinggi

Komponen terakhir adalah Effort. Sebuah komponen yang mengukur seberapa banyak usaha yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan sebuah tugas. Skala yang digunakan adalah skala 1 - 6 dengan 1 berarti solusi tersebut membutuhkan Effort yang rendah dan 6 Effort yang tinggi.

2. Kano Model

Product Manager menggunakan metode Kano untuk menilai mana fitur yang sebenarnya dibutuhkan oleh pelanggan. Metode ini membantu tim produk untuk menentukan mana solusi yang sebaiknya dikerjakan secepatnya dan mana fitur yang sebaiknya dikerjakan di kemudian hari.

Model ini membandingkan dua komponen, yaitu tingkat kepuasan dan fungsionalitas. Tingkat kepuasan menggambarkan bagaimana perasaan pelanggan pada saat berinteraksi dengan produk sedangkan fungsionalitas menggambarkan Kano Model mengklasifikasikan solusi menjadi 4 jenis:

  • Must Have : Fitur yang harus dimiliki oleh sebuah produk
  • Performance : Sebuah fitur yang meningkatkan kinerja dari sebuah produk
  • Indifferent : Fitur yang tidak memberikan dampak yang nyata bagi sebuah produk
  • Attractive : Fitur yang meningkatkan daya tarik dari sebuah produk

Kano Model dapat divisualisasikan seperti gambar di bawah

#5.4 Mengenal North Star Metric

North Star Metric merupakan nama lain dari metric yang paling penting dalam sebuah produk.

Metric ini menjadi acuan terhadap kondisi dari sebuah produk dan metric khusus yang paling menjelaskan nilai bisnis utama yang diberikan kepada pelanggan oleh sebuah bisnis.

Sebuah metric dapat dinyatakan sebagai North Star Metric ketika metric tersebut memenuhi tiga kriteria: berhubungan dengan pendapatan, mendorong peningkatan kepuasan pelanggan, dan dapat menilai perkembangan produk itu sendiri.

Beberapa contoh dari North Star Metric:

E-Commerce

  • Customer Lifetime Value
  • Number of Daily Purchase

Messaging

  • Number of message sent everyday

Media

  • Total Read Time
  • Total Watch Time
  • Number of Paying Subscribers

Cara Menemukan North Star Metric

Untuk menentukan sebuah North Star Metric, sebuah bisnis harus menentukan hal yang paling penting bagi bisnis tersebut.

Beberapa bisnis melihat jumlah transaksi sebagai hal terpenting, tapi bagi bisnis lain, jumlah pengguna aktif memiliki dampak yang lebih besar. Semua ini juga bergantung pada jenis industri dari bisnis tersebut.

Sebuah metric dapat diklasifikasikan sebagai North Star Metric ketika metric tersebut memiliki tiga syarat: 1) berhubungan dengan pendapatan , 2) mendorong tingkat kepuasan pelanggan, 3) mengindikasikan perkembangan produk.

Sebuah metric yang mendatangkan banyak uang ke dalam perusahaan namun tidak meningkatkan kepuasan pelanggan akan gagal dengan seiring berjalannya waktu.

Metric yang tidak memberikan indikasi perkembangan produk tidak dapat memberikan insight yang dapat digunakan oleh tim produk untuk meningkatkan performa dari produk. Lakukan hal ini untuk menemukan North Star Metric:

  • Coba tanyakan hal yang esensial bagi bisnis, kemudian prioritaskan
  • Temukan  KPI dan metric yang mengukur beberapa faktor penting di perusahaan
  • Buat sebuah metric hierarchy dengan North Star Metric berada pada posisi paling atas

#5.5 Mendesain Produk dan Eksperimentasi

Setelah solusi sudah ditentukan, solusi tersebut harus divalidasi supaya tim produk dapat menentukan solusi mana yang dapat diimplementasi terlebih dahulu dan memastikan bahwa solusi yang ditawarkan sudah sesuai dengan kebutuhan pasar.

Saat sebuah perusahaan berusaha memasuki pasar, mereka perlu melakukannya dengan cepat untuk mendapatkan feedback dan validasi langsung dari pengguna.

Untuk mencapai ini, tim produk akan membuat yang disebut sebagai Minimum Viable Product (MVP).

MVP adalah bentuk paling sederhana dari sebuah produk yang dibuat dengan usaha seminimal mungkin tanpa mengorbankan fungsionalitas awal dari produk tersebut.



Feedback yang didapatkan dari peluncuran MVP akan membantu tim produk untuk menentukan solusi yang sebaiknya dikembangkan kedepannya.

Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah, meskipun MVP adalah bentuk paling sederhana bagi sebuah produk, MVP harus tetap menjalankan fungsi utamanya.

Dalam dunia product management, tim produk biasanya melakukan beberapa eksperimen untuk menjawab hipotesis yang ada.

Di akhir eksperimen, mereka dapat menentukan solusi mana yang lebih efektif. Beberapa bentuk eksperimentasi yang dapat dilakukan antara lain:

1. A/B Testing

Ketika tim produk memiliki lebih dari 1 solusi yang ingin diimplementasi, mereka membutuhkan validasi dari para pengguna mereka. Namun, bagaimana caranya mereka mendapatkan feedback jika mereka memiliki 1 juta pengguna aktif?

Salah satu metode yang paling sering digunakan adalah A/B Testing. Metode ini akan menguji 1 variabel yang sama dalam sebuah produk atau solusi. Berikut adalah langkah - langkah dari menjalankan A/B Testing:

  1. Tentukan tujuan dari eksperimen yang ingin dilakukan
  2. Tentukan jangka waktu eksperimen
  3. Menentukan control group dan test group (test group adalah jumlah sampel yang diberikan pengaruh dari variabel yang sedang diuji)
  4. Menentukan success metric dari eksperimen
  5. Menentukan langkah berikutnya berdasarkan hasil pengujian

2. Usability Testing

Eksperimen ini bertujuan untuk melihat bagaimana calon pelanggan / pelanggan yang ada berinteraksi dengan produk atau solusi yang sudah dibuat.

Product Manager akan berkolaborasi dengan UX Researcher untuk melihat:

  • Kesulitan yang dialami user selama menggunakan produk
  • Emosi / perasaan yang dialami user selama menggunakan produk
  • Pola pergerakan user selama menggunakan produk

Adapun beberapa hal yang perlu disiapkan sebelum memulai Usability Testing:

  1. Prototipe tampilan aplikasi yang akan diuji
  2. Skenario pengujian yang akan dilakukan (cth: user melakukan registrasi, user melakukan pembayaran, dll.)
  3. Hal yang akan kamu tanyakan ke user (cth: Kenapa anda merasa bingung ketika membuka halaman ini? Apa yang anda rasakan? Apa kan ada perintah yang kurang jelas?
  4. Catatan / alat dokumentasi untuk menyimpan hasil pengujian

#5.6 Berkomunikasi dengan Stakeholder

Salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang product manager adalah kemampuan untuk berkomunikasi, kepemimpinan dan kemampuan untuk mempengaruhi tim supaya mereka dapat bergerak ke arah yang sama dengan visi produk.

Pertama - tama, kita harus mengetahui terlebih dahulu stakeholder yang berkomunikasi / berhubungan dengan product manager.


Ilustrasi di atas menggambarkan bahwa product manager akan memiliki berkomunikasi dengan berbagai macam stakeholder baik secara horizontal dan vertikal.

Komunikasi secara vertikal terjadi antara Product Manager dengan C-Level Executives atau dapat diartikan sebagai posisi yang memiliki wewenang untuk membuat sebuah keputusan di level perusahaan.

Product Manager akan berkomunikasi dengan para executives ketika tim produk memiliki inisiatif baru yang dapat membantu perusahaan untuk memberikan lebih banyak value kepada pelanggan.

Secara horizontal, product manager memiliki beberapa stakeholder, yakni stakeholder internal dan eksternal.

Di sisi internal, product manager akan berkomunikasi dengan tim bisnis, marketing, customer service / success, tim back office, IT, dan desain. Di sisi eksternal, product manager akan sering berkomunikasi dengan pengguna produk.

Menjaga komunikasi dengan tim internal, baik secara horizontal maupun vertikal merupakan sebuah kemampuan yang harus dimiliki oleh product manager.

Seorang product manager harus memahami bisnis perusahaan secara end to end, seorang product manager juga sebaiknya mengerti teknologi yang digunakan oleh perusahaan supaya bisa berkomunikasi dengan tim IT dengan baik.

Seorang product manager juga harus memiliki pemahaman yang baik mengenai user experience agar bisa berkomunikasi dengan tim desain. Tim desain akan membantu tim produk untuk memvisualisasikan hasil akhir dari sebuah produk.

Product Manager, walaupun memiliki kata “Manager” dalam jabatan nya, secara hirarki, Product Manager tidak memiliki otoritas terhadap tim engineering, design, maupun tim bisnis.

#5.7 Go-To-Market Strategy

Go-To-Market Strategy (GTM) adalah sebuah rencana marketing yang dilakukan di akhir fase pembuatan produk.

Tujuan GTM adalah untuk mengkomunikasikan produk maupun sebuah fitur ke pasar dengan tujuan untuk meningkatkan penggunaan fitur maupun produk.

GTM dapat dilakukan ketika sebuah produk berusaha masuk ke dalam pasar atau memasarkan produk ke target pasar yang sudah ada sebelumnya.

Dalam fase ini, tim produk akan berkomunikasi dengan tim bisnis maupun marketing untuk membahas strategi komunikasi, harga produk, dan metode pemasaran.

Meskipun tanggung jawab pemasaran akan dilakukan oleh tim marketing, sebagai product manager, kita harus bisa menentukan beberapa hal untuk membantu tim marketing:

  1. Keunggulan produk. Apa yang membuat produk ini berbeda dengan produk lain di pasar
  2. Keuntungan yang didapatkan oleh pelanggan dengan menggunakan produk ini
  3. Masalah yang dialami oleh pelanggan sebelum adanya produk ini dan bagaimana produk ini menyelesaikan masalah tersebut
  4. Harga yang harus dibayar oleh pelanggan (jika fitur / produk ini berbayar)

Tujuan akhir dari Go-To-Market Strategy adalah menentukan apakah sebuah produk dapat mencapai sebuah kondisi yang disebut Product Market Fit.

Dengan aktivitas pemasaran, tim produk dapat mendapatkan reaksi atau feedback dari pasar terkait produk yang dipasarkan.


Cara Mempersiapkan Go-To-Market Strategy

  1. Menentukan penanggung jawab

Dalam menentukan GTM, menentukan penanggung jawab merupakan hal yang penting untuk dilakukan.

Seorang penanggung jawab akan membantu tim untuk membuat keputusan dan memediasi komunikasi antar tim yang terlibat.

Product Manager maupun Product Marketing Manager dapat menjadi salah satu penanggung jawab dalam pelaksanaan strategi pemasaran.

2. Mengetahui target audience

Dalam proses pembuatan produk, tim produk biasanya sudah menentukan user persona yang akan menggunakan produk maupun sebuah fitur.

Klasifikasi user persona ini dapat membantu tim produk dan marketing untuk menentukan target pasar dalam GTM.

Dalam mengetahui target audience, penting juga untuk mengetahui segmentasi pasar yang ada (demografik, psychographic, geographic, interest, dll.) karena dengan segmentasi yang berbeda, pesan marketing yang dibawa haruslah berbeda juga

3. Menentukan pricing dari produk dan strategi penjualan

Pada fase ini, tim produk akan bekerja sama dengan tim bisnis. Pada model bisnis B2B (Business to Business), strategi pricing biasanya dibagi berdasarkan fitur / service yang diberikan kepada klien.

Semakin banyak fitur yang ditawarkan, semakin besar harga. Beberapa perusahaan pun mengimplementasikan paket “enterprise” untuk penggunaan produk dengan skala besar.

4. Menentukan metric

Dalam pembuatan GTM, penting adanya untuk menentukan tingkat keberhasilan strategi.

Beberapa metric seperti Customer Acquisition Cost (CAC) atau jumlah uang yang dikeluarkan untuk mendapatkan 1 pelanggan sering kali menjadi salah satu metric utama untuk menentukan tingkat keberhasilan GTM.

5. Membuat rencana untuk customer support

Seiring berjalannya waktu, sebuah produk akan terus bertambah besar dengan bertambahnya jumlah pengguna. Tim customer support haruslah diedukasi dengan baik karena mereka adalah gerbang pertama di mana interaksi antara perusahaan dan pelanggan terjadi.

Dalam GTM, penting juga untuk mempersiapkan tim customer support dengan pengetahuan yang cukup mengenai produk atau service yang ditawarkan.


#6 Career Path di Product Management

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai career path dari seorang product manager. Pertama kita harus memahami terlebih dahulu mengenai tiga peran fungsional dari product manager:

  • Tactical : Berfokus pada pekerjaan jangka pendek dan memastikan bahwa solusi dapat diberikan kepada pelanggan dengan waktu yang tepat
  • Operational : Berfokus pada pembuatan roadmap dan menentukan arah produk ke depannya
  • Strategic : Berfokus untuk menemukan cara bagaimana produk yang dimiliki oleh perusahaan dapat unggul di pasar (product positioning). Fungsi ini juga memastikan bagaimana semua produk yang dimiliki oleh perusahaan dapat berjalan dengan sinergis untuk mencapai visi perusahaan

Career dalam Product Management dapat digambarkan sebagai berikut

Secara garis besar, terdapat 5 - 6 tahap dalam pengembangan karir seorang product manager:

  • Associate Product Manager
  • Product Manager
  • Sr. Product Manager
  • Director of Product
  • VP of Product
  • Chief Product Officer

Masing - masing posisi tersebut memiliki proporsi fungsional yang berbeda - beda


Associate Product Manager dan Product Manager akan memiliki proporsi pekerjaan tactical yang lebih banyak dibandingkan posisi senior lainnya seperti Director of Product dan Vp of Product.

Di sisi lain, Chief Product Officer (CPO) memiliki peran strategis paling besar dibandingkan posisi lain dalam product management.

#7 Sumber Belajar Ilmu Product Management

Memulai karir sebagai Product Management:

  • Inspired oleh Marty Cargan
  • Cracking the PM Interview oleh Gayle McDowell
  • Decode and Conquer oleh Lewis Lin

Menjadi Product Leader:

  • Escaping the Build Trap oleh Melissa Peri
  • Empowered oleh Marty Cargan

Memahami siklus produk:

  • The Lean Startup oleh Eric Ries
  • The Lean Product Playbook oleh Dan Olsen
  • Value Proposition Design oleh Alex Osterwalder

Tips & Tricks product management:

  • Product Management in Practice oleh Matt LeMay
  • The Product Book: How to Become a Great Product Manager oleh Carlos Gonzalez de Villaumbrosia

Online Resources:

RevoU Staff

RevoU Staff

Awali karirmu di perusahaan teknologi bersama RevoU!