Cara Menjawab “Ceritakan tentang Diri Anda” saat Wawancara Kerja


Ada berbagai macam pertanyaan yang bisa ditemukan dalam sebuah wawancara, namun satu hal yang pasti akan ditanyakan adalah “Ceritakan tentang Diri Anda”. Pertanyaan ini bisa tersampaikan dalam beberapa bentuk kalimat seperti,

“Silahkan perkenalan diri dahulu.”

“Boleh kenalan dulu?”

“Kita bahas CVnya, yuk!”

dan banyak rupa lainnya. Namun, bagaimanakah jawaban yang tepat ?

Sebelum kita masuk ke pembahasan, mari kita lihat contoh dibawah ini:

Nama saya Rika. Usia saya 24 tahun. Saya tinggal di Taman Merapi No. 32, Tangerang Selatan. Pekerjaan saya sekarang adalah penerjemah Bahasa Inggris-Indonesia. Saya tertarik mendaftar sebagai Content Marketing karena saya suka menulis dan menguasai beberapa bahasa.

Menurutmu, apakah jawaban ini benar atau salah? Kita akan mempelajari dan menjawabnya di akhir artikel.

Tujuan dari “Ceritakan tentang Diri Anda”

Di setiap tahap dalam proses pendaftaran kerja, pewawancara memiliki tujuan tertentu yang ingin dicapai. Pertanyaan “Ceritakan tentang Diri Anda” bertujuan untuk menguji kesesuaian seorang kandidat dengan kriteria yang dibutuhkan untuk posisi tersebut. Sebagaimana kata Salsa Erwina, salah satu career coach di RevoU, seorang hiring manager ingin mengetahui “Apakah kamu akan menjadi valuable asset atau ‘rock star’ di posisi itu?”. Maka, jawaban yang tepat adalah memberikan informasi tentang diri kamu yang relevan dan sesuai dengan posisi yang diinginkan. Sebagai contoh, jika kamu mendaftar sebagai Digital Marketing Specialist maka ceritakan bagian dari diri kamu yang relevan dengan pekerjaan itu; misalkan peran kamu sebagai divisi marketing di organisasi kampus, atau menjalankan apprenticeship saat RevoU Labs, dsb.

Catatan: Bukan berarti bagian diri kamu yang lain tidak menarik, namun ini bukanlah saat yang tepat untuk menceritakan keseluruhan kisah hidup karena bisa mempersulit pewawancara mencapai tujuannya.

Cara menjawab “Ceritakan tentang Diri Anda”

Menjawab pertanyaan “ceritakan tentang diri anda” pada dasarnya adalah  kesempatan untuk ‘menghidupkan’ kata-kata yang tertulis di CV maupun cover letter dengan menjelaskannya secara verbal. Ketika kita mendapatkan undangan untuk wawancara, asumsinya adalah pewawancara sudah tertarik dengan versi diri kita yang dibaca di CV dan ingin mengenal lagi lebih dalam tentang sosok yang tertulis di dokumen tersebut. Susunlah kerangka perkenalan dirimu dengan menjawab pertanyaan berikut ini:

  1. Apa kualitas diri yang ingin ditonjolkan?

Ceritakanlah tentang hal personal diri kamu yang dapat memberikan nilai tambah untuk posisi yang kamu inginkan. Misalkan tentang passion kamu, cerita awal mulai kamu tertarik di bidang tersebut, keterampilan khusus  atau kekhasan lain yang bisa membuat pewawancara mengingat dirimu. Sebagai contoh, berikut adalah kisah alumni RevoU bernama Sukraj yang menceritakan tentang awal mula ketertarikannya di digital marketing.

Saya besar di keluarga yang memiliki usaha X. Sebelumnya, semua kegiatan pemasaran kami dilakukan secara offline. Namun, saya sebagai yang muda di keluarga menyadari bahwa ada perubahan perilaku berbelanja orang ke mengarah digital. Maka dari itu, saya bantu keluarga untuk mengelola usaha di platform online marketplace seperti Shopee, Tokopedia, dan lain sebagainya. Melihat peningkatan sales yang signifikan, saya semakin tertarik untuk mempelajari digital marketing karena saya percaya ini adalah kunci keberhasilan bisnis di jaman sekarang.

Berikut adalah contoh lain dari alumni RevoU, Nadif, yang menunjukkan passionnya di bidang marketing

Perkenalkan nama saya Nadif. Seperti tertulis di CV,  saya sebenarnya lulusan teknik kimia dari ITB. Jujur, saya memilih berdasarkan dukungan dari keluarga besar. Namun, justru ketika belajar di jurusan teknik kimia ini saya menemukan ketertarikan terhadap marketing saat aktif di organisasi. Saya pernah dipercaya menjadi Marketing Director di acara ITB in Move 2016 dan membawahi 5 divisi termasuk desain grafis, media sosial, dokumentasi, networker dan website. Meskipun jurusan utama saya teknik, saya memilih untuk mengambil mata kuliah pilihan seperti finance, entrepreneurship, dan kelas inovasi yang memperkuat minat dan mempertajam keterampilan saya di bidang marketing.

Dengan menceritakan ini, Nadif dapat dengan mudah diingat oleh pewawancara dengan label “anak teknik yang ikut organisasi sebagai marketing”.

2. Apa pekerjaan atau pengalaman yang relevan dengan posisi ini?

Dari sekian banyak pengalaman yang tertulis di CV, pilihlah 1-2 pengalaman yang dianggap paling relevan dengan posisi yang diinginkan namun perdalam pembahasannya dengan menjelaskan pencapaianmu dan cara kamu mendapatkannya. Pengalaman tidak harus selalu tentang pekerjaan full time, namun juga bisa proyek sampingan maupun kegiatan lainnya. Perlu diingat bahwa relevansi harus berdasarkan reasoning yang kuat. Kamu harus bisa menceritakan korelasi antara pengalaman tersebut dan bagaimana perusahaan bisa mendapatkan manfaat yang sama jika kamu berhasil diterima untuk posisi tersebut. Sebagai contoh, berikut adalah jawaban dari Trias, alumni RevoU, ketika menceritakan tentang pengalamannya di dunia KOL (Key Opinion Leader):

Saya memiliki pengalaman magang sebagai Brand Ambassador di PT. Gudang Garam Tbk  selama 6 bulan. Saya adalah satu dari 67 orang yang terpilih dari kurang lebih 100.000 pendaftar. Sebagai brand ambassador, saya bertanggung jawab untuk merencanakan, membuat, mengedit, dan mempublikasikan konten setiap hari melalui media sosial instagram. Hasilnya mencapai standar yang brand tetapkan, saya berhasil memiliki engagement rate sebesar 12 %.

Dilansir dari Glassdoor, salah satu teknik yang bisa digunakan saat menjelaskan poin ini adalah metode SET : skills (keterampilan), experience (pengalaman), dan time dedicated (waktu yang diperlukan). Berdasarkan cerita Trias, ia mempelajari social media marketing saat menjadi brand ambassador brand selama 6 bulan. Akan lebih baik jika ditambah dengan pencapaian yang diraih, usahakan menggunakan angka atau persentase dan matriks. Berdasarkan contoh, ia berhasil mendapatkan engagement rate sebesar 12%. Berikut adalah contoh lain dari Adi, alumni RevoU:

Saya pernah bekerja sebagai apprentice di salah satu perusahaan properti Singapura, Noon Property sebagai bagian dari program RevoU Labs. Tugas saya adalah mengelola  kampanye Facebook Ads untuk pasar tingkat Asia Tenggara. Dalam dua minggu, saya berhasil mendapatkan 150 leads dan menurunkan CPL sebanyak 40% dengan melakukan berbagai A/B testing untuk optimisasi kreatif dan targeting.

Berdasarkan metode SET, Adi menceritakan tentang pengalamannya menangani kampanye facebook ads saat bekerja di perusahaan properti singapura dan mendapatkan 150 leads dalam 2 minggu dengan melakukan A/B Testing.

3. Kenapa kamu ingin bekerja di posisi dan perusahaan tersebut?

Terakhir, tunjukan bahwa kamu sudah mengenal perusahaan tersebut dengan menyebutkan hal yang membuatmu terpukau. Artinya, kamu harus mempelajari terlebih dahulu tentang program, visi-misi, nilai, atau informasi lainnya yang berkaitan dengan perusahaan. Setelah itu, sesuaikan jawaban kamu dengan informasi yang telah didapatkan. Berikut adalah contoh dari alumni RevoU bernama Izhar:

Saya sangat menyukai tulisan yang ada di blog iPrice. Salah satu yang paling menarik adalah artikel tentang riset kebiasaan berbelanja konsumen saat Ramadhan di tengah pandemi. Menurut saya, informasi tentang komoditas yang paling laku dan e-commerce yang naik daun sangat insightful. Bahkan, saya menggunakan data e-commerce triwulanan dari iPrice sebagai sumber untuk data tesis saya yang membahas tentang “Faktor yang mempengaruhi loyalitas pengguna e-commerce di Bukalapak”. Saat melihat ada lowongan untuk posisi Content Marketing, saya langsung sangat tertarik untuk bergabung dan ingin berkontribusi untuk memberikan konten yang bermanfaat bagi audiens di Indonesia.

Perlu diingat bahwa kamu adalah satu dari sekian ratus bahkan ribu kandidat lainnya. Kamu hanya memiliki waktu terbatas untuk menunjukkan bahwa kamu adalah kandidat yang bisa memberikan performa terbaik untuk posisi tersebut, bahkan terkadang hanya 15 menit. Apa yang harus dilakukan?

Kamu harus Stand Out, berbeda dari pada yang lain.

Tips agar Wawancara Berkesan

Kabar baiknya adalah kamu bisa mempersiapkan diri agar memiliki ciri khas yang membedakan dengan kandidat lain. Selain dari menunjukan kapabilitas dan pencapaian seperti yang sudah dijelaskan di atas, ada 2 hal yang tidak banyak diketahui orang namun akan memberikan nilai tambah jika dipersiapkan sebelum wawancara:

Pertama, carilah informasi tentang pewawancaranya. Secara teknis, mengetahui apakah pewawancara dari bagian Human Resource (HR) atau user akan membantu kamu untuk menyesuaikan jawabanmu terutama yang berhubungan dengan istilah-istilah. Selain itu, jika kita sudah mengenal sosoknya, kita dapat memanfaatkan informasi tersebut untuk membangun koneksi kemanusiaan dengan individu tersebut. Carilah persamaan yang dimiliki, misalkan kalian adalah alumni dari universitas yang sama atau memiliki ketertarikan topik yang serupa. Wawancara sejatinya adalah perbincangan antara dua orang, dengan topik yang sudah ditentukan. Ketika kita berbincang dengan orang dan menemukan koneksi, tentunya akan lebih besar kemungkinan untuk pelamar tersebut diingat diantara kandidat lainnya.

Coba pikirkan: Jika kamu adalah seorang hiring manager, dan sudah menemukan beberapa kandidat yang memenuhi kualifikasi, pada akhirnya yang membedakan adalah relasi yang berhasil dibangun melalui wawancara tersebut.

Tips kedua adalah latihan. Kamu tidak perlu menghafalkan setiap kalimat dari jawaban yang sudah dipersiapkan, namun memahami setiap poin penting yang perlu disebutkan. Kamu bisa berlatih dengan mengucapkannya secara lantang di depan cermin. Jika berani, kamu juga bisa mencoba mockup interview dengan temanmu dan meminta feedback agar kamu bisa memberikan jawaban yang terbaik saat wawancara sesungguhnya. Latihan akan membantu kamu mengetahui tingkat pemahamanmu tentang topik yang akan kamu bahas. Semakin paham, maka kamu juga akan semakin percaya diri. Hasilnya adalah kamu dapat menjadi lebih santai dan justru menunjukkan kepribadianmu dengan jujur dalam kesempatan waktu yang singkat. Wawancara yang baik adalah ketika perbincangan berjalan lancar selayaknya dua kerabat sedang bercerita.


Jadi, bagaimana dengan contoh di atas tadi?

Jawaban tersebut tidak sepenuhnya salah, namun ada beberapa hal yang bisa dielaborasi. Mari kita bahas setiap poin yang Rika (fiktif) sebutkan.

“Usia saya 24 tahun. Saya tinggal di Taman Merapi No. 32, Tangerang Selatan.”

Pernyataan ini cukup relatif menyesuaikan dengan posisi yang dilamar. Namun, banyak perusahaan terutama di bidang teknologi yang tidak terlalu mementingkan usia maupun tempat tinggal dari calon pekerjanya. Apalagi, informasi ini biasanya sudah tertera di CV. Jadi, kalimat ini sebenarnya tidak terlalu esensial untuk disebutkan di awal wawancara.

Pekerjaan saya sekarang adalah penerjemah Bahasa Inggris-Indonesia.”

Rika bisa lebih mengelaborasi bagian ini. Proyek apa saja yang sudah dikerjakan? Pencapaian apa yang menurut Rika bisa dibanggakan dan relevan dengan kebutuhan perusahaan? Berapa lama Rika sudah bekerja sebagai penerjemah?

“Saya tertarik mendaftar sebagai Content Marketing karena saya suka menulis dan menguasai beberapa bahasa.”

Ketika menyampaikan ketertarikan untuk mendaftar, ini adalah kesempatan untuk Rika bisa menjelaskan kekagumannya terhadap pencapaian perusahaan tersebut. Jadi, selain menunjukkan alasan pelamar tertarik terhadap sebuah posisi, Rika juga seharusnya menjelaskan kenapa perusahaan harus tertarik kepadanya secara rinci dan penjelasan yang mudah dimengerti

Penutup

Wawancara merupakan salah satu kunci untuk dapat berhasil mendapatkan sebuah pekerjaan. Namun, selain dengan teknik yang mumpuni, wawancara yang bagus tentunya terpengaruh dengan kualitas sang pelamar itu sendiri.  Maka dari itu sangat penting bagi pelamar kerja untuk memiliki keterampilan yang in-demand, dan dapat menampilkannya dengan baik saat proses mendaftar kerja sehingga bisa diterima oleh perusahaan yang diinginkan. RevoU hadir untuk memberikan ilmu, keterampilan, dan pelatihan di salah satu bidang yang sangat tinggi permintaannya saat ini yaitu Digital Marketing. Selain memperlajari Full-Stack Digital Marketing seperti paid advertising, social media marketing, Search Engine Optimization (SEO), dan Customer Relationship Management (CRM) dari instruktur profesional yang bekerja di startup unicorn seperti Tokopedia, GoJek, Traveloka, dan Grab ; kamu juga dapat mengikuti program career coaching di RevoU Next. Kamu akan dibimbing agar bisa membuat CV yang menarik, menyusun portofolio dari proyek yang dikerjakan selama di RevoU, serta membuat profil LinkedIn yang lebih profesional. Kamu juga akan mendapatkan feedback langsung dari career coach yang sudah berpengalaman sebagai hiring manager di perusahaan tingkat Indonesia maupun Asia Tenggara. Mereka akan membantu kamu terutama dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi behavioral dan technical interview agar kamu siap ketika menghadiri wawancara dan kesempatan kamu diterima semakin tinggi.

Tertarik untuk mempelajari program ini lebih lanjut?

Kunjungi laman kami di revou.co

Teaching driven individuals the skills they need to accelerate their career in the tech industry ?