A Day in the Life of a Tech Sales Professional

Career TipsInsights

A Day in the Life of a Tech Sales Professional

Berkembangnya industri teknologi membuat banyak perusahaan berbondong-bondong mencari talent.

Banyak yang mengira bahwa bekerja di industri teknologi berarti harus mengerti coding. Padahal, studi dari Glassdoor menyatakan bahwa 43% dari lowongan pekerjaan adalah untuk posisi yang non-teknis, yang salah satunya adalah Tech Sales.

Lalu, bagaimanakah pekerjaan Tech Sales itu sendiri? Kesehariannya seperti apa? Dan bagaimana agar sukses di bidang tersebut?

Simak cerita ketiga orang Team Lead dari program RevoU's Sales in Tech, yang sudah bertahun-tahun berpengalaman di bidang Sales.

Hello! Boleh perkenalkan diri kamu dan job title kamu?

Rifqi: Halo! Nama gua Rifqi, sekarang kerja sebagai Business Development Manager.

Nico: Halo semuanya! Nama saya Nico Delima, biasa dipanggil Nico atau Abu. Saya kerja di PT CSS atau biasa dikenal dengan Everplate Kitchen. Posisi saya saat ini bekerja sebagai Senior Executive Sales Development Representative.

Fadli: Jadi nama aku Fadli. Sekarang di Insider sebagai Digital Growth Consultant, which is part of the Sales team. Jadi role nya kaya SDR (Sales Development Representative) dimana basically lebih buat reach out ke prospect.


Kalau sekarang, day-to-day kamu typically seperti apa?

Rifqi: Okay! Jadi my day actually starts H-1 prior to the day. Dari H-1 biasanya gua akan fokus planning buat besok di H-1 nya.

Biasanya at the end of the day, gua akan prepare buat besoknya gua akan ngapain aja. Gua akan cek ada meeting apa aja untuk besok, kira-kira dokumentasi apa aja yang harus dikerjain, dan mungkin ada alignment apa yang harus diprepare prior to the session.


Nico: Untuk day to day sebagai seorang Senior Executive Sales Development Representative adalah...


Fadli: Oke! Jadi sebenarnya at a glance Insider adalah tech company. Kita marketing technology company dimana kita provide solution buat digital marketers.

Aku sendiri specifically dibagian tech market di Indonesia dan goals kita adalah untuk help marketers enhancing metrics-metrics yang mereka punya.

Nah! Untuk day-to-day nya!


Apa hal yang paling menyenangkan?

Rifqi: Yang paling menyenangkan di sales for me adalah you get to see the business itself.

Ada yang bilang:

Di sales, you get to see how the company works. Either your company or your counterpart's company.

Dan lagi, kalau kamu productnya adalah tech, biasanya akan implementasi produk nya  di macam-macam department. Bisa di customer service, bisa di HR, bisa di marketing, bahkan di sales nya juga.

Disitu kamu bisa ngobrol sama setiap orang di berbagai department itu. Therefore, kamu jadi paham tentang departemen dan industri nya.

Kamu bisa tau objective nya mereka apa, dan kira-kira KPI nya apa. So we can help to meet their KPI.

Itu yang paling menyenangkan sih. Karena your entrepreneurial mindset akan kebangun disana dan  kamu terexpose sama the reality of business.


Nico: Hal yang paling menyenangkan yang pertama nih, karena saya seorang extrovert, saya dapet energi, dapet vibe, dan dapet spirit dari ngobrol sama orang, dari berinteraksi sama orang. Pastinya bagian yang paling menyenangkannya adalah saya bisa banyak berinteraksi dengan orang lain.

Jadi nggak cuman bekerja dengan laptop, nggak cuman bekerja dengan Google Sheet, tapi karena kita berinteraksi sama orang, jadi suatu hal yang baru itu terus terjadi.


Fadli: Kalau yang menyenangkan adalah able to learn all the skills and then try to apply it in real life.

Buat aku yang terjun di fast paced company, I think one of the best exposure to join a very fast paced company adalah bener-bener bisa belajar from the great people. Nggak cuma dari Indonesia aja, tapi even from globally.

By the way, Insider ini my first ever job after I graduated! From here I learn how to do the right communication. I think in Sales, it’s very important to learn how to communicate appropriately with people. But, unfortunately, this thing is not taught in school.


Apa yang paling menantang?

Rifqi: Yang paling menantang adalah targetnya.

Tapi, if there is no target, kamu juga nggak akan tau juga which path you should take, how many deals you should close in a month or in a quarter.

Tapi! Ini itu biasanya challenging di awal-awal. Nanti kalau kamu sudah 3-6 bulan di company tersebut, dan kalau kamu secara pipeline sudah okay, itu bisa di manage.


Nico: Karena kita bekerja dengan orang dan bukan dengan robot, pastinya challengenya tiap orang berbeda-beda.

Misalkan kita ngobrol ke prospek, dan mungkin aja prospek itu punya masalah A. Tapi another prospect belum tentu punya masalah A, tapi punya masalah B.

Nah gimana caranya kita sebagai Sales atau sebagai orang yang memberikan solusi, bisa memberikan solusi yang tepat buat orang-orang tersebut.

Jadi itu challenge nya. Yaitu memahami problem orang, then kita kasih solusi sesuai dengan problemnya.


Fadli: Kalau yang paling menantang, I think it’s a very-very fast paced job.

There’s also something new that keeps coming juga. Jadi it’s not stopping even until I reach the target.

Tapi because I’m really passionate and I really like the industry, jadi I would say it’s really tiring but it’s good because I’m having fun juga!

Another challenge yang timbul karena pandemic adalah aku nggak bisa ketemu langsung sama prospect.

Jadi yang biasanya bisa face to face, build relationships dan ketemunya biasanya lebih enak, sekarang bener-bener harus semuanya pakai online. Bedalah sama face to face. Yang pasti kalau online mungkin ada internet problem atau technical problem, itu challenge nya.


Apa ekspektasi VS realita waktu terjun ke dunia Tech Sales?

Rifqi: Personally, I don’t like to presume things.

Gua nggak suka putting on expectations. Jadi memang dari awal sudah tau the reality bahwa “Okay, in any job there will be challenges”.

Tapi kalau ditanya tentang ekspektasi, ekspektasinya adalah ketika kita belajar teori tentang sales, biasanya adalah tentang input ke output, dan how we fulfill our funnel.

Tapi realitanya adalah, karena the decision is not in our hands, it becomes a challenge. Kita udah did our part, did all the negotiation part, fulfilled our pipeline, but we can’t close the deal because the decision is not in our hands.


Nico: Honestly I don’t expect anything in the Sales world.

Udah itu aja selalu berulang.


Fadli: Banyak persepsi orang tentang Sales adalah hanya tentang jualan. Of course Sales itself artinya jualan.

Tapi on top of that, menurut aku, the reality setelah aku udah masuk ke dunia Sales ini adalah, ternyata Sales lebih tentang gimana caranya kita bisa deliver value untuk our buyer. How we can fit the value of the product to the prospect.


Apakah punya rekomendasi buku/ podcast/ artikel/ video untuk temen-temen yang mau mendalami skills di Tech Sales?

Rifqi:


Nico: Ini pertanyaan menarik! Jujur aja mungkin saya nggak kaya kebanyakan sales person atau sales leader lain yang mungkin belajar dari buku, belajar dari theoretical.

Saya dapet ilmu dari mana? Learning by doing.

Tapi dua tahun belakangan ini lagi tertarik banget nonton videonya seorang YouTubers namanya Dan Lok. Dia sharing tips on how to be a Sales. Jadi banyak video-videonya dia yang bermanfaat buat kita untuk lihat perspective gimana caranya kita doing sales.


Fadli: Dari aku ada 2 buku:

Kalau YouTube favoritku adalah Gary Vaynerchuk. He is a really good sales guy.


Terakhir! Seseorang yang sukses di karir kamu itu orang yang seperti apa?

Rifqi: Ada beberapa hal yang menurut gue penting banget.

  • Don’t procrastinate - nggak banyak alasan.
  • Persevere - kerja keras.
  • Understand their number - karena sales is a numbers game, dari input ke output conversion nya berapa persen.
  • And have a long term grit - if you don't close the deal today, never forget that deal. Kalau deal nya belum cocok, send a break up email telling them that nanti kedepannya kalau mau review lagi, they can talk again.

Nico: Orang yang biasanya sukses di dunia sales itu orang yang nurut sama peraturan.

Yang kedua orang yang mau outperform, jadi nggak cuman kerja sebagai penggugur kewajiban atau cuman kerja biar dapet gaji, tapi dia coba nunjukin sesuatu yang beda dari orang lain.

And then yang ketiga adalah orang yang mau belajar. Jadi dia nggak jago, dan awalnya mungkin nggak perform, tapi dia terus mau belajar, terus memperbaiki dirinya agar jadi lebih baik.

Dari pengalaman saya jadi leader, saya ketemu banyak karakter orang dan tiga hal tadi lah yang saya rasa paling penting yang dipunya orang yang sukses berkarir di Sales.


Fadli: Mungkin ini aku balik lagi ke yang awal ya.

First, we need to be able to identify what’s the problem. And then find ways to solve the problem with our product or our features.

Kalau kita bisa fit the product to the prospect's needs dan bisa berhasil deliver the value, I think after all kita akan bisa bekerja sama dan will be able to sell the product ke company yang kita tuju.


Beberapa orang mungkin menganggap bahwa pekerjaan Sales hanyalah tentang berjualan.

Namun, seperti yang sudah diceritakan oleh Rifqi, Nico, dan Fadli, di atas itu masih ada proses yang lebih kompleks sebelum akhirnya berhilir ke sebuah penjualan.

Jika kamu tertarik untuk berkarir di bidang ini, pastikan untuk mengasah skills mu baik technical maupun behavioural.

Tertarik untuk berkarir di dunia Tech Sales? RevoU hadir untuk memberikan ilmu, keterampilan, serta pelatihan yang kamu butuhkan untuk menjadi talent terbaik di bidangnya.

Selain mempelajari kurikulum Sales in Tech Program, seperti sales process, mindset training, dan tools of sales titans, dengan instruktur profesional terbaik.

Kamu juga dapat mengikuti program career coaching di RevoU NEXT dan mendapatkan bimbingan untuk mendapatkan pekerjaan impianmu.

RevoU juga siap untuk menyediakan Job Guarantee sampai dengan 100% refund apabila kamu tidak mendapatkan pekerjaan.

Tertarik untuk mempelajari program ini lebih lanjut? Kunjungi laman Sales in Tech Program.

Amira Hayat

Amira Hayat