Cerita Nadia: Assistant Manager di Corporate jadi Associate Product Owner di Cermati!

Perjalanan career switch Nadia dari Assistant Manager di Corporate jadi Associate Product Owner di Tech!

Ervina Desiviola
Ervina Desiviola

Table of Contents

Pernah ngerasa udah betah di tempat kerja sekarang, tapi karir stuck terus?

Atau.. udah nemuin comfort zone sih, tapi rasanya ada yang kurang dan mau challenge diri sendiri lagi?

Hal itu juga yang dialami oleh Nadia, seorang Assistant Manager di corporate yang berhasil mengejar mimpinya untuk jadi Associate Product Owner di Tech!

Penasaran gimana perjalanan career switch-nya Nadia? Baca ceritanya di bawah ini, ya!


Kenalan dulu yuk, sama Nadia!

Halo, semua! Namaku Nadia, aku Alumni Full Stack Product Management (FSPM) Batch 1. Sekarang ini aku bekerja sebagai Associate Product Owner di Cermati.com.

Sebagai Associate Product Owner, aku bertanggung jawab end-to-end dari suatu produk. Mulai dari membuat solusi dari suatu masalah dan kebutuhan user, foresee (memprediksi) trend untuk development feature, hingga meningkatkan user experience.

Aku juga kerjasama dengan Business Development team untuk bikin strategi development yang efektif!

Kenapa memilih untuk switch career ke Tech Industry?

Aku ini sebenarnya lulusan Industrial and Product Design di Dalian University of Technology, China. Seharusnya, kalau sesuai jurusan, aku bisa berkarir sebagai Product Designer untuk manufaktur (3D design).

Tapi, aku gak terlalu mau jadi designer.

Setelah lulus, sempat bingung mau kerja apa. Kayak gak ada arah mau kemana..

Yang pasti, aku tau skills apa aja yang bisa aku jual, salah satunya Bahasa Mandarin! Jadi aku coba ngelamar ke perusahaan yang pakai Bahasa Mandarin juga.

Aku pun diterima kerja di Oppo Indonesia, berawal dari Go To Market Staff hingga dipromosi jadi Assistant Tutor & Trainer Manager selama 2 tahun.

Selama 2 tahun ini, aku emang ngerasa betah sih, tapi kok kayaknya karirku stuck ya..

Aku juga sempat pindah kerja sebagai Executive Assistant di corporate. Sayangnya, aku kurang cocok dengan culture-nya yang cukup kaku.

Mulailah aku refleksi, “Ke depannya, karirku mau dibawa ke mana ya?”

Dari sinilah aku sadar kalau aku suka banget pekerjaan yang lebih generalis!

Pas lagi liat-liat Instagram, ketemu iklan RevoU Mini Course (MC) Product Management yang keliatannya cocok sama generalis.

Setelah ikut MC RevoU, aku mikir.. “If not now, then it’s never”. Jadi, aku langsung join Full Stack Product Manager (FSPM).

Fortunately, it all paid off! Aku bisa career switch juga jadi Product Owner di Tech!

Sebenernya, Product Management itu apa sih?

Sesuai namanya, Product Management (PM) itu lebih ke management suatu produk.

It’s more than just computing and building app!

PM juga fokus ke problem solving—belajar untuk lebih empati ke orang lain, karena kita harus tau apa kebutuhan mereka dan mencari solusinya. Intinya adalah, mempertemukan kebutuhan (needs) audience dengan tawaran (offering) dari perusahaan.

Selain itu, jenjang karirnya juga cukup banyak!

(Baca lebih lengkap di Panduan Lengkap Product Management di Asia Tenggara bagi Pemula)

Apa yang bikin kamu yakin untuk ambil Product Management?

PM emang tergolong cukup baru, dan aku juga cuma ada background Product Design yang beda banget sama PM. Yang sama itu cuma sama-sama customer-centered dan ada sisi bisnisnya.

Nah, yang bikin aku yakin itu, di PM bisa belajar banyak hal! Ini cocok banget sama sifatku yang generalist dan fast-learner.

Bisa dibilang, PM itu surganya generalist!

Kalau di PM, you can’t do anything only by the book. Emang ada teorinya, tapi harus adaptasi juga sama company-nya dan customer-nya.

Kuncinya, know what’s best for you!

Beberapa orang mungkin lebih suka yang stable dan repetitive—tipe ini mungkin akan kesulitan di PM. Tapi, ada juga yang gak suka repetitive—ini yang mungkin lebih cocok di PM!

Sempat ragu gak untuk ikut RevoU dengan biaya demikian?

Sebelum join RevoU, aku buat pertimbangan yang cukup mateng, makanya aku berani melangkah.

Kuncinya itu, calculate your risk and build a safety net!

Jadi kalau misalnya gagal untuk approach hal yang baru, pas kita harus balik lagi ke path sebelumnya, udah nyaman aja.

Dulu itu aku nabung dulu, dan pas ikut RevoU gak sambil kerja full time. Aku juga udah tau skills apa aja yang aku punya dan bisa dijual dan range gaji yang aku perluin.

So, even if I fail at RevoU, aku masih bisa balik ke industri/kerjaan lama yang mungkin gak terlalu aku suka. Tapi, aku tau aku gak akan bangkrut (karena udah nabung).

Kamu dapat Job Guarantee gak? Kalau gak dapat, masih bisa dapet kerja gak sih?

Waktu itu aku dapet 33%, dan namanya kekhawatiran gak dapet kerja pasti ada, apalagi udah keluarin uang belasan juta.

Tapi dari awal, niatku bukan untuk dapetin Job Guarantee (JG). Menurutku, JG itu cuma assurance, it’s not a goal!

Karena ikut RevoU itu kan memang investment untuk bisa belajar dan dapet kerja. Jadi, gak dapet JG, bukan berarti gak bisa dapet kerja.

Selama belajar pun, gak ada perbedaan treatment antara penerima JG dan Non Job Guarantee (NJG), kok! Semuanya dapet kualitas yang sama bagusnya: kurikulum, learning experience, support dari Instructor, SM, TL, dan lain-lain.

Bahkan, sampai saat ini, semua NJG di RevoU dapet kerja, loh!

Gimana suasana belajar di FSPM?

Di FSPM itu kita bisa belajar modul-modul FSPM dari 0. Ada yang individual week dan juga group project.

Ada beberapa modul yang dipelajari pakai perusahaan imajiner. Jadi, seolah-olah kita jadi PM di perusahaan tersebut dan dikasih study case dengan data tertentu.

Hasil assignment maupun group project ini juga bisa dimasukkin sebagai portofolio kita, ataupun sekedar share di LinkedIn juga bisa!

Misalnya, pas belajar Implementing Solution, spesifiknya Minimum Viable Product (MVP)—dimana kita harus buat suatu produk dengan fitur paling minimum, yang penting bisa solve problem user dan deliver value.

Waktu itu, aku kepikiran untuk solve permasalahan ekonomi generasi muda, khususnya yang mau menikah. Karena dari data-data yang kudapet, banyak yang menikah over budget dan akhirnya finansial di pernikahannya gak stabil.

Cara solvenya gimana? Aku buat ArthaKita yang menyediakan fasilitas reksadana untuk persiapan pernikahan. Ada fitur gamify juga supaya menarik, kayak ada checkpoint untuk nabung bareng sama pasangan!

Mau supaya bisa #PinangAyangTanpaUtang? Cek rancangan MVP-ku di sini, ya!

Skills apa aja yang didapet di FSPM?

Secara general, skill yang diperluin banget di PM itu Business dan Customer-centered, juga sedikit tentang Design. Semuanya ini aku dapet di FSPM!

Spesifiknya, ada salah satu materi yang sampai sekarang masih kepake banget: Stakeholder Management—gimana cara komunikasi ke Stakeholders!

Dari SMP, aku termasuk orang yang social awkward dan ngerasa skill komunikasiku harus lebih diasah lagi.

Selama ini aku pikir kalau sama atasan tuh harus hormat banget (kaku banget), tapi di RevoU aku belajar bahwa we have to see others as a person and understand who are we talking to.

Misalnya, ada yang gaya bicaranya santai, kita bisa komunikasiin dengan lebih santai dan tetap menghargai mereka. Atau, kayak ngobrol sama CEO: kita tetap harus menghormati mereka dan hargai juga waktu mereka, jangan ngomong yang gak penting-penting amat.

Fortunately, ternyata hal ini bisa langsung aku rasain di Cermati!

Aku bisa sharing-sharing juga sama Manager, dan Chief Product Officer (CPO) lebih approachable. Jadi tau juga kalau style komunikasi di tech company tuh lebih open dan hal ini yang bikin tech company cepet growth-nya!

Modul paling challenging itu Backlog dan Product Requirement Document (PRD).

PRD itu dokumen yang memuat tentang seluruh detail tentang produk, termasuk tujuan produk, fitur, manfaat, dan behaviornya. PRD ini yang akan dijadikan panduan untuk business dan technical team untuk build, launch, dan memasarkan produknya.

Sedangkan kalau backlog adalah pecahan-pecahan (parts) dari hal-hal yang perlu dikerjain. Itu lebih ke arah problem and solution prioritization. Biasanya karena resource yang terbatas, fitur-fitur yang mau di-build perlu diprioritasin supaya bisa deliver value dengan lebih cepat.

Misalnya, mau buat fitur video call—yang penting ada video dan suara. Fitur-fitur seperti raise hand, chat box, itu bisa dilakukan nanti. Jadi, prioritasin ada video dan suara dulu.

Emang untuk ngerti materi yang diajarin, harus hands on juga!

Justru, sebagai Product Owner, aku lebih banyak urusin backlog sekarang. Padahal tadinya modul ini yang paling challenging buat aku!

Dari sini aku jadi belajar kalau..

My intimidation was based on my fear of failure to understand. Tapi ketika kita face that fear, it’s not intimidating anymore.

Ceritain dong, gimana proses kamu dapat kerja yang sekarang?

Buat dapetin kerja yang sekarang, kuncinya itu networking!

Sebelum dan selama aku belajar di FSPM, ini yang aku lakukan:

  • Share di LinkedIn, social media, dan teman-teman aku kalau aku akan join FSPM
    Aku share juga experience-ku selama di RevoU, kayak gini!
  • Networking dan cari insights dari teman-teman dari berbagai background, khususnya yang di tech company juga.
    Kalau dulu, aku networking ke teman yang Engineer Manager di e-commerce, Business Analyst, dan UX Research.

So, networking itu gimana cara membangun relasi kita dan gimana membuat orang merasa gak rugi kalau sharing sama kita! Bukan cuma terbatas di ngajak makan dan ngobrol.

Aku biasa tanya-tanya untuk dapat insight, “PM di perusahaanmu ngapain aja?” atau selama assignment suka nanya, “Mindsetku udah bener belum ya untuk solve ini?”

Bisa juga belajar hal-hal lain, loh! Kayak culture di tech, cara nego gaji, dan lain-lain.

Kebetulan, aku dapat kerjaan justru dari temanku yang Business Analyst, yang sekarang di Cermati juga. Dia awalnya sharing gimana proses recruitment di Cermati, dan ternyata culture-nya oke banget sama aku!

Dia pun kasih referral-nya, dan aku lanjut ke proses interview untuk solve study case sebuah website. Semua ilmu dan skill yang didapet di RevoU bisa aku pakai untuk solve study case ini, loh!

Bahkan, gak nyangka banget baru 1 perusahaan yang proses, langsung diterima kerja karena networking!

Sebenernya di proses job-seeking, saringan terbesar itu dari CV yang dilakuin sama HR. At the first glance, tentu kita belum bisa tau keseluruhan skill dan personality seseorang. Makanya, akses paling berharga itu akses ke interviewnya.

Dari sinilah kita harus extra effort dengan networking! Ini skill bagus yang diperluin banget. Banyak yang bilang kalau networking is a privilege—it is.

Tapi, aku juga mau bilang:

Kalau misalnya kita tau kita punya privilege, there’s no shame untuk kita bisa manfaatin privilege itu. Dan misalkan kita belum punya privilege, kita bisa kok build privilege kita untuk masa depan!

Privilege ini juga ada istilah PM-nya loh, namanya unfair advantage.

Every great Product Manager who I know has an unfair advantage that makes them special. -Jeff Morris Jr.

Perubahan paling drastis antara kerja di corporate dan tech?

  1. Pace kerja yang jauh lebih cepat
    Start up/tech lebih terkenal sama fast-paced, dan emang baru kerasa sekarang! Banyak meeting dan kolaborasi dengan departemen lain, tapi seneng juga pas solving the problems!
  2. Punya kontrol dan otoritas terhadap kerjaan
    Sebagai Product Owner, aku lebih merasa punya control and authority in what we’re doing.

    Kalau di corporate, yang lebih memegang kontrol itu manager: mau buat keputusan apapun, harus tanya dulu ke atasan. Tapi, di PO, aku lebih diberikan kepercayaan untuk tanggungjawab sepenuhnya, dan masih bisa diskusi ke atasanku untuk buat keputusan.

    Menurutku hal ini yang valuable dan fulfilling ketimbang di corporate.
  3. Gaji standard udah double digit!
    Sebenernya aku gak terlalu mikirin banget soal gaji, karena masih baru berkarir di PM. Tapi, standardnya udah double digit!

    Kalau kamu confident dengan skillmu, bisa tawar gaji yang lebih tinggi.

(Baca selengkapnya tentang karir PM di sini)

Pesan untuk teman-teman yang mau switch career ke PM juga?

Tips:

  1. Be sure to know who you are, to find yourself and to be honest with yourself.
    It takes courage to look inside!
    Cari tau arah karirmu mau ke mana.
  2. Make sure you have a safety net!

Ayo, kejar karir impianmu!

Kamu juga bisa coba dulu belajar dasar Product Management dan merasakan gimana jadi student di RevoU selama dua minggu secara gratis di RevoU Product Management MC, loh!

Mau tau lebih lanjut?

Kamu bisa cek FAQ RevoU Mini Course dan kontak [email protected] untuk tanya-tanya dulu,

atau langsung daftar di sini, ya!

Cerita Alumni

Ervina Desiviola

Ervina is a Content Writer Executive at RevoU. She loves to share some stories through writings. Drowning in thousands of books by developing Fierofea Books (NGO for book donations in Indonesia)!