COVID-19 dan Dampaknya Terhadap Pertumbuhan Karyawan di Perusahaan Teknologi Indonesia

Data-Driven Study

COVID-19 dan Dampaknya Terhadap Pertumbuhan Karyawan di Perusahaan Teknologi Indonesia

Terjadinya pandemi COVID-19 berdampak sangat besar pada angka pengangguran di Indonesia.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, pada Feb 2021 terdapat 1,62 juta orang yang tergolong pengangguran akibat COVID-19.

Hal ini juga menjadi refleksi dari kondisi perusahaan teknologi di Indonesia secara umum, karena pertumbuhan karyawan menjadi salah satu faktor yang menunjukkan perkembangan suatu perusahaan.

Sehingga menjadi sangat menarik untuk memahami lebih jauh mengenai bagaimana pandemi COVID-19 memberikan pengaruh yang berbeda pada setiap industri.

Perubahan yang terjadi membuat beberapa sektor usaha mengalami pertumbuhan karyawan negatif, namun juga ada yang pertumbuhannya positif.

Dalam riset ini, tim Content Marketing RevoU berusaha untuk mengungkap industri mana yang terkena dampak positif maupun negatif akibat pandemi COVID -19 ini, berdasarkan data pertumbuhan jumlah karyawan di perusahaan Teknologi Indonesia, menggunakan data dari LinkedIn Premium Insights.

Elemen apa yang diteliti?

Untuk melihat pertumbuhan jumlah karyawan di perusahaan teknologi selama pandemi, kami mengumpulkan dan membandingkan beberapa data di bawah ini:

  • Jumlah karyawan dari 31 perusahaan teknologi di Indonesia dari bulan April 2019, 2020, dan 2021 (Sumber: LinkedIn Premium Insights)
  • Persentasi pertumbuhan median jumlah karyawan di kategori HealthTech, EduTech, E-Commerce, FinTech, Transportasi, dan Travel selama periode COVID-19
  • Persentase pertumbuhan jumlah karyawan sebelum dan selama COVID-19 untuk masing-masing perusahaan di kategori di atas

Untuk riset kali ini, kami mengumpulkan 31 perusahaan teknologi di Indonesia dan Asia Tenggara yang terbagi menjadi 6 kategori (berdasarkan Google, Temasek & Bain) yaitu: e-commerce, transportasi, travel, fintech, edutech, dan health tech. Data mentah bisa langsung diakses di sini.

Berikut adalah temuan utama dari riset ini:

  • 5 dari 6 vertikal perusahaan teknologi mengalami pertumbuhan jumlah karyawan yang positif selama masa pandemi (April 2020 - April 2021), sedangkan kategori yang mengalami pertumbuhan negatif adalah Travel (-14%)
  • Kategori yang selama pandemi mengalami pertumbuhan karyawan tertinggi adalah #1 Health tech (26%) dan disusul oleh #2 Edutech (21%).
  • Untuk 3 kategori lainnya: E-commerce dan Transportasi mengalami pertumbuhan karyawan sebesar 14% dan Fintech sebesar 4%
  • Meskipun Shopee memiliki jumlah karyawan terbanyak yakni 23,032 orang, namun pertumbuhan karyawan selama pandemi tetap mencapai angka yang tinggi yaitu 78% (kenaikan 21% dari periode sebelum pandemi).
  • Klook menjadi perusahaan yang mengalami perlambatan pertumbuhan karyawan paling signifikan dari sebelum pandemi (100.73%) dibandingkan selama pandemi (-29.42%)

#1 Temuan Mendalam kategori Health Tech:

  • Pada masa pandemi (April 2020-April 2021), jumlah karyawan Alodokter bertumbuh sebanyak 20,88% dibanding sebelumnya 63,82% (April 2019-2020). Sedangkan Halodoc bertumbuh sebanyak 26,76% dibanding sebelumnya 53,24%.
  • Alodokter mendapatkan pendanaan Seri C+ pada November 2020 melibatkan lengan investasi grup Telkom, MDI Ventures; Sequis Life; dan Golden Gate Ventures. Suntikan dana ini digunakan untuk merilis pelayanan farmasi daring melengkapi layanan telemedis, pemesanan dokter, asuransi.
  • Pada April 2021, Halodoc mengumumkan pendanaan seri C sebesar USD 80 juta yang dipimpin oleh Astra, bersama Tamasek, Telkomsel Mitra Inovasi, Novo Holdings, Acrew Diversify Capital Fund, serta Bangkok Bank. Pendanaan ini digunakan untuk penetrasi di berbagai vertical serta meningkatkan pengalaman user melalui teknologi.

#2 Temuan Mendalam kategori EduTech:

  • Zenius  mengalami percepatan pertumbuhan karyawan pada masa pandemi sebesar 97%. 29% lebih tinggi jika dibandingan pertumbuhan karyawan sebelum pandemi yaitu hanya sebensar 68%.
  • Pada September 2020 Zenius memiliki 15,7 juta lebih pengguna, yang jumlahnya melonjak 12X lipat secara tahunan. Zenius juga menjalin kerjasama dengan Gojek dan meluncurkan layanan teledukasi gratis.
  • Zenius  mendapatkan pendanaan Seri A sebesar US$ 20 juta di Februari 2020 dan Seri B di Januari 2021 yang tidak disebutkan jumlahnya.
  • Sedangkan, Ruangguru mengalami perlambatan pertumbuhan karyawan selama pandemi yakni 21% dari sebelumnya 98.48%.
  • Pada Desember 2019, Ruangguru mendapat pendanaan seri C sebesar US$ 150 juta dan digunakan untuk ekspansi ke Vietnam. Pada April 2021, Ruangguru kembali mendapat pendanaan sebesar US$ 55 juta.
  • Di kala pandemi,  Ruangguru sendiri menjalani berbagai inovasi seperti menjadi mitra Pra Kerja melalui Skill Academy.
  • Berdasarkan percepatan pertumbuhan, Pahamify mengalami pertumbuhan yang signifikan yakni dari 51% menjadi 294%. Pada Maret 2020, startup ini mendapat pendanaan dari Y combinator sebesar US$ 150ribu, dan setahun kemudian pada Maret 2021 menggandeng Shopeepay untuk pembayaran nontunai.

#3 Temuan Mendalam kategori E-commerce:

  • Di kategori e-commerce, Shopee mengalami pertumbuhan karyawan paling tinggi baik sebelum pandemi (57%) dan selama pandemi (78%). Di antara bulan April 2020 - 2021, Shopee meluncurkan dua fitur terbaru mereka di pasar Indonesia, yakni ShopeeFood pada April 2020 dan ShopeePay pada Agustus 2020.
  • Sebelum pandemi COVID-19, pertumbuhan karyawan Bukalapak negatif yaitu -16,3%. Pada bulan September 2019, Bukalapak tengah melakukan PHK terhadap karyawan sebagai salah satu upaya perusahaan untuk menjadi Unicorn pertama yang mencetak keuntungan.
  • Tokopedia juga menjadi perusahaan yang pertumbuhan karyawannya positif selama pandemi sebesar 15%. Tercatat pada September 2020, total merchant yang dimiliki e-commerce Tokopedia meningkat lebih dari 2 juta hanya dalam periode 6 bulan. Selama pandemi, Tokopedia juga mendukung upaya pemerintah Bangga Buatan Indonesia (BBI) untuk membantu UMKM. Pada November 2020, Tokopedia mengumumkan Temasek dan Google sebagai shareholder di perusahaannya.

#4 Temuan Mendalam kategori Transportasi:

  • Dua perusahaan hail riding terbesar di Indonesia mengalami perlambatan pertumbuhan karyawan selama pandemi. Grab bertumbuh sebanyak 8% dari sebelumnya 22%, dan Gojek bertumbuh sebanyak 10% dari sebelumnya 26%.
  • Di masa awal pandemi, Grab melakukan Pemutusan Hubungan Kerja 360 karyawannya di Asia Tenggara. Disisi lain, perusahaan ini gencar menjalin kerja sama dengan UMKM melalui Grab Merchant.
  • Di Juli 2020, Gojek harus menghentikan beberapa layanan GoLife dan GoFood Festival. Strategi yang kemudian diterapkan adalah berfokus pada bisnis layanan transportasi, pembayaran, dan pengiriman barang. Gojek juga menjalin hubungan dengan sejumlah perusahaan rintisan seperti Halodoc dan Kitabisa.com.

#5 Temuan Mendalam kategori e-wallet/Fintech:

  • Di kategori e-wallet/ Fintech, Link Aja mengalami penurunan percepatan kenaikan karyawan yang signifikan yaitu sebanyak -230% (Pertumbuhan sebelum pandemi: +266% VS selama pandemi: +36%). Pada Februari 2019 (sebelum pandemi), layanan keuangan elektronik milik Telkomsel tersebut melakukan rebranding dari TCASH menjadi Link Aja.
  • OVO mengalami perlambatan pertumbuhan karyawan dari 14.68% sebelum pandemi menjadi 8.31% selama pandemi. Selama tahun 2020, OVO bekerjasama dengan mitra strategis seperti e-commerce Zalora, Lazada, Blibli, HappyFresh dan yang lainnya. Perusahaan juga meluncurkan dua program baru yaitu layanan asuransi melalui OVO|Proteksi dan akses investasi melalui OVO |Invest.

#6 Temuan Mendalam kategori travel:

  • Travel menjadi kategori yang sangat terdampak persentase pertumbuhan karyawan-nya karena pandemi. Ke-tujuh perusahaan yang diteliti, semuanya mengalami persentase pertumbuhan negatif.
  • Sebelum pandemi, Klook bertumbuh pesat dengan persentase pertumbuhan 100,73%. Pada April 2019, perusahaan ini  mendapatkan pendanaan seri D sebesar $225 juta. Namun selama pandemi, pertumbuhan karyawan negatif sebesar -29%, membuat selisih yang signifikan.
  • Tiket adalah salah satu perusahaan travel yang masih mengalami pertumbuhan karyawan yang positif dikala pandemi, walaupun persentasenya kecil (1,84%). Tiket bertahan di masa pandemi tanpa mem-PHK karyawan dengan strategi memotong anggaran promosi hingga nol dan mengatur tax dan network.
  • OYO, penyedia hotel murah, bertumbuh pesat (sebanyak 53,51%) sebelum pandemi dan telah menjadi hotel-chain terbesar ketiga di dunia. Di tengah pandemi, jumlah karyawan menurun sebanyak -49,65%. OYO merumahkan sebagian karyawannya dan memberlakukan Leave of Absence.
  • Sebelum pandemi, pertumbuhan karyawan RedDoorz bertumbuh pesat sebanyak 62,13%. Pada 2019, RedDoorz menggenjot ekspansi 1500 properti di Indonesia per akhir 2019. Adanya pandemi berdampak pada okupansi RedDoorz di wilayah Jakarta yang biasanya 73% menurun menjadi 29-38%. Dikala pandemi, pertumbuhan karyawan RedDoorz pun turun sebesar -5,5%.


Metodologi: Mengumpulkan data jumlah karyawan dari masing-masing perusahaan pada bulan April 2019, 2020, dan 2021. Data dikumpulkan April 2021.

Sumber Data: LinkedIn Premium Insights.

Data Mentah: bit.ly/C19HIRING

RevoU Staff

RevoU Staff

Awali karirmu di perusahaan teknologi bersama RevoU!